• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
15 Jul

Bagaimana OCPD Berbeda dari OCD?

by

Pernahkah kamu melihat seseorang yang terobsesi dengan kerapian atau kebersihan, sehingga ia tidak mau menyentuh benda apa pun jika belum dibersihkan sebelumnya? Kedua hal itu merupakan salah satu stereotip bagi sebuah gangguan kesehatan mental yang dikenal dengan sebutan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Namun, ada juga sebuah istilah gangguan kesehatan mental serupa yang mungkin belum banyak terdengar, yaitu Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD).

Memang, perilaku para pengidap OCD tidaklah begitu aneh, aktivitas mematikan lampu, membersihkan karpet, atau menjaga agar tata letak perabotan di rumah tetap rapi; merupakan hal yang normal untuk dilakukan oleh siapa saja. Akan tetapi, bagi orang-orang pengidap OCD, jika mereka memiliki obsesi mengenai keamanan, mereka cenderung terobsesi untuk selalu mengecek berbagai hal berulang kali hingga mengganggu rutinitasnya. Berbeda dengan OCD, orang dengan OCPD lebih sering dikaitkan dengan perfeksionisme dan hidup yang sangat teratur. OCPD adalah gangguan kepribadian yang ditentukan oleh keteraturan yang ketat terhadap ketertiban dan kendali atas lingkungan dengan mengorbankan fleksibilitas maupun keterbukaan terhadap pengalaman baru.

Bagaimana OCPD Berbeda dari OCD?

Meskipun istilah keduanya serupa, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup signifikan bagi orang dengan OCD dan OCPD. Orang dengan OCD biasanya tertekan atau terganggu oleh perilaku, pikiran, dan obsesi yang mereka miliki, tetapi tidak bisa mereka kontrol. Sebaliknya, orang-orang dengan OCPD percaya bahwa tindakan mereka memiliki maksud dan tujuan tertentu.

Selain itu, orang dengan OCD cenderung memiliki obsesi dan tingkah kompulsif. Beberapa obsesi yang umum ditemukan yaitu ketakutan akan terkontaminasi oleh bakteri, virus atau mikroorganisme, sehingga cenderung ingin terus membersihkan diri. Contoh lain, jika mereka memiliki obsesi terhadap kesimetrisan dan tata letak, mereka bisa saja terganggu melihat ruang kelas yang berantakan atau sekadar hiasan dinding yang asimetris.

Tindakan obsesif juga diiringi dengan tindakan kompulsif, contohnya, terus menerus mencuci tangan, mengecek barang, hingga menyusun buku sesuai urutan warna untuk mengurangi rasa cemas karena pikiran atau obsesi yang dimiliki.

Orang-orang dengan OCPD, cenderung menunjukkan perilaku tertentu, seperti terlalu terpaku dengan hal detail, perfeksionis dalam setiap pekerjaannya, yang tidak jarang mengganggu terselesaikannya pekerjaan, serta tidak bisa mendelegasikan pekerjaannya karena jarang ada orang lain yang dianggap bisa mengikuti keinginannya. Tidak hanya itu, mereka juga cenderung tidak dapat melepas benda lama yang penuh kenangan, keras kepala, dan terobsesi dengan menimbun barang.

Dari sini, kita bisa melihat perbedaan signifikan yakni bahwa meskipun perilaku obsesif sama-sama ditemukan dalam pengidap OCD dan OCPD, tetapi perilaku kompulsif tidak ditemukan pada OCPD. Walaupun keduanya begitu memperhatikan hal detail seperti membuat to do list dengan sangat detail, pengidap OCD cenderung melakukan hal tersebut untuk meringankan kegelisahannya dari pikiran obsesif. Sedangkan pengidap OCPD melakukan hal tersebut karena merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan efisiensi. Pengidap OCD akan merasa tertekan ketika harus melakukan aktivitas tersebut, tetapi pengidap OCPD justru berpikir hal tersebut sangat penting.

Perawatan yang Diterima, Apakah Serupa?

Orang dengan OCD pada umumnya akan mencari bantuan akibat dari tekanan psikis yang dirasakan akibat perilaku obsesi-kompulsif yang mengganggu rutinitasnya. Dari tindakan kompulsif, orang dengan OCD akan merasa terbebani jika harus menjalankan aktivitas sehari-harinya. Namun sebaliknya, pengidap OCPD justru meminta bantuan pada profesional ketika ia memiliki konflik dengan orang lain. Mereka merasa frustrasi karena merasa orang lain tidak dapat melakukan hal yang menurut dirinya harus dilakukan. Kondisi orang dengan OCD akan cenderung tidak stabil seiring dengan berjalannya waktu, sedangkan orang dengan OCPD dapat mengubah kepribadiannya itu sendiri.

Jika kamu atau bahkan orang terdekatmu merasakan tanda-tanda di atas, penting untuk tidak mendiagnosis diri sendiri ya, Socconians! Pastikan kamu mencari bantuan profesional seperti psikolog dan psikiater untuk mengetahui kondisi lebih lanjut. Dengan begitu, kamu juga bisa mendapatkan penanganan yang sesuai, sehingga seiring berjalannya waktu, kondisi keberfungsian dirimu diharapkan menjadi lebih baik. Jaga kesehatan ya, Socconians!

Referensi

Penulis : Ni Putu Putri Ardhia Paramita

Editor-in-Chief : Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis : Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi

Editor Tata Bahasa : Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana

Sumber Tulisan :

  1. Abramowitz, J. S., Taylor, S., & McKay, D. (2009). "Obsessive-compulsive disorder". The Lancet, 374(9688), 491–499. doi:10.1016/s0140-6736(09)60240-3
  2. Arehart-Treichel J. (2014). Knowing How OCD and OCPD Differ Could Spur New Treatments. Clinical and Research News.
  3. Gamakova, N. (2014) "Obsessive Compulsive Disorder vs Obsessive Compulsive Personality Disorder". Diakses pada 11 September 2020 dari https://aeterna-ufa.ru/sbornik/NK56-2.pdf#page=227
  4. Kelly, O., & Morin, A. [Verywell Mind]. (2019). "OCD vs. Obsessive Compulsive Personality Disorder". Diakses pada September 20, 2020, dari https://www.verywellmind.com/ocd-vs-obsessive-compulsive-personality-disorder-2510584

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2025 All rights reserved.