• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
03 Jul

Bahaya Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental Laki-Laki

by

Hai, Socconians!

Beberapa bulan lalu di platform media sosial TikTok sedang ramai-ramainya tren dengan tagar #endtoxicmasculinity. Namun, apa sih sebenarnya toxic masculinity itu? Yap, kali ini Social Connect akan membahas mengenai toxic masculinity dan dampak buruknya terhadap kesehatan mental laki-laki.

Pasti kamu sudah nggak asing, kan, dengan kata-kata maskulin dan feminin? Maskulin dan feminin adalah kata sifat atau karakteristik yang biasanya dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang, yaitu laki-laki dan perempuan. Penggolongan kedua sifat ini muncul dari konstruksi sosial mengenai gender.

Hubungan Konstruksi Gender dengan Toxic Masculinity

Toxic masculinity lahir ketika seseorang berpikiran bahwa pria harus memenuhi standar sifat maskulin yang telah dibentuk oleh konstruksi sosial. Dengan kata lain, menormalisasikan dan mengglorifikasi sifat maskulin itu sendiri secara berlebihan. Jika tidak memenuhi standar tersebut, akan dianggap tidak manly. Toxic masculinity secara tidak langsung bisa menyebabkan pemahaman yang keliru mengenai menjadi seorang pria.

Sifat-sifat Maskulin yang Terbentuk oleh Konstruksi Sosial

Penelitian oleh Promundo dan Unilever pada tahun 2016, memperkenalkan sebuah skala standar sifat maskulin yang bernama The Man Box. Di dalamnya, ada tujuh buah pilar sifat-sifat maskulin yang dibentuk dari pandangan-pandangan masyarakat, mulai dari yang tercermin di media hingga nilai-nilai yang secara tidak sadar orang tua ajarkan kepada anaknya. Ketujuh sifat tersebut sebagai berikut.

  1. Self-sufficiency, seorang laki-laki tidak pantas untuk menceritakan keluh kesahnya dan apa yang ia rasakan ketika sedih. Ia harus mencari jalan keluar sendiri untuk menyelesaikan masalah yang ia punya.
  2. Acting tough, jika laki-laki tidak membalas ketika terjadi perundungan, ia akan dianggap lemah. Ia harus tampak kuat meski sedang merasa takut.
  3. Physical attractiveness, jika seorang laki-laki tidak menarik secara penampilan, ia tidak akan bisa sukses. Laki-laki yang gemar bersolek tidaklah manly.
  4. Rigid masculine gender roles, laki-laki tidak sebaiknya diajarkan untuk memasak, membersihkan rumah, dan mengayomi anak. Peran seorang suami dalam rumah tangga adalah sebagai pencari nafkah dan tidak harus untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.
  5. Heterosexuality dan homophobia, pria homoseksual bukanlah seorang pria yang seutuhnya.
  6. Hypersexuality, dominasi akan perempuan.
  7. Aggression dan control, normal bagi pria untuk menggunakan kekerasan untuk mendapatkan rasa hormat. Seorang suami adalah decision maker di dalam rumah tangga.

Bahaya Toxic Masculinity untuk Kesehatan Mental Laki-Laki

Toxic masculinity bisa berakibat buruk bagi kesehatan mental jika seseorang tersebut tidak bisa memenuhi kriteria atau standar tersebut dan merasa tertekan karenanya.

Sebagai salah satu contoh, seorang laki-laki memiliki masalah yang berkaitan dengan perasaan. Membicarakan masalah pribadi seperti putus cinta, kehilangan seseorang, kegagalan dalam rumah tangga, ataupun masalah yang menggunakan perasaan sering kali dianggap sebagai subjek yang tidak maskulin. Pada sebuah penelitian menunjukkan bahwa hal ini membuat laki-laki merasa enggan mencari solusi atau bantuan dari luar.

Di sisi lain, pada penelitian itu pula menunjukkan terdapat beberapa pria yang berani untuk menceritakan masalahnya, tetapi gagal untuk mendapatkan bantuan karena mereka mendapat penolakan dari sesama kaum pria. Mereka yang mengalami kegagalan dalam mendapat bantuan merasa malu karena mereka telah “merusak” standar maskulinitas.

Jika kaum laki-laki dipaksa untuk memenuhi standar sifat maskulin, kemungkinan mereka akan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti berikut ini.

  1. Merasa sedih, depresi, atau stres.
  2. Isolasi diri dari sosial.
  3. Penyalahgunaan obat-obatan.
  4. Kehilangan gairah untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
  5. Masalah body image.
  6. Memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Nah Socconians, dari sini kita tahu bahwa toxic masculinity tidak baik untuk kesehatan mental laki-laki, ya. Namun, sebenarnya maskulin sendiri itu tidak toxic dari kacamata kesehatan jika mereka seimbang, kok.

Untuk laki-laki, kamu bisa menjadi maskulin tanpa perlu menjadi toxic! Cobalah menjadi lebih open-minded dan pahami bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk perasa.

Referensi

Penulis : Adrian Daniarsyah

Editor-in-Chief : Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis : Sherly Deftia A. S.Ked

Editor Tata Bahasa : Christina Intania A dan Hafiza Dina Islamy.

Sumber Tulisan :

  1. Heilman, B., Barker, G., and Harrison, A. (2017). The Man Box: A Study on Being a Young Man in the US, UK, and Mexico. Washington, DC and London: Promundo-US and Unilever.
  2. Johnson, J. (2020). “Toxic masculinity: Definition, common issues, and how to fight it”. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2020 dari situs Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-masculinity.
  3. McCarthy, K. (2016). “Toxic Masculinity and Men’s Mental Health”. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2020 dari situs Health Line. https://www.healthline.com/health-news/toxic-masculinity-mental-health-problems-for-men.
  4. McKenzie, S. K., Collings, S., Jenkin, G., & River, J. (2018). “Masculinity, Social Connectedness, and Mental Health: Men’s Diverse Patterns of Practice”. American Journal of Men’s Health. 1247–1261. https://doi.org/10.1177/1557988318772732
  5. Newman, T. (2018). “Sex and gender: Meaning, definition, identity, and expression”. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/232363.
  6. White, T. (2020). “Harmful Masculinity Norms Can Lead to Violence and Depression, Research Finds”. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2020 dari situs Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/harmful-masculinity-causes-violence-depression-5078571

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.