• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
05 Jul

Mendidik Anak Autistik dengan Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis)

by

Hi, Socconians!

Gangguan autistik atau anak autistik merupakan istilah yang sering kita salah artikan. Sebagian dari kita masih sering menganggap anak autistik memiliki perkembangan IQ rendah. Bahkan, ada juga yang menganggap anak autistik tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila sebagian dari kita masih menganggap anak autistik seperti itu, sebaiknya kita mencari informasi lagi mengenai gangguan autistik.

Lalu, apa itu autistik? Autistik atau autism spectrum disorder adalah gangguan perkembangan sistem saraf yang dimulai sejak anak berusia dini dan bertahan sampai dewasa. Autistik dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Di samping itu, autistik juga menyebabkan gangguan perilaku.

Bagi anak autistik, memahami perasaan dan pikiran orang lain merupakan hal yang tidak mudah. Anak autistik juga memiliki kesulitan untuk membagikan ekspresi dirinya kepada orang lain, sehingga mereka tidak mudah untuk memiliki teman bermain. Selain itu, mereka hanya memiliki ketertarikan pada satu objek saja dan objek itulah yang akan mereka mainkan selama berjam-jam. Bahkan, bagi anak autistik, sebuah sentuhan, bau, atau apa pun yang mereka lihat dan tampak normal bagi orang lain dapat membuat mereka ketakutan dan tersakiti.

Autistik memiliki gejala dan tingkat keparahan yang beragam bagi tiap penderitanya. Gejala ini biasanya dapat terlihat sejak anak berumur 1—2 tahun. Nah, dengan mengetahui tanda dan gejala gangguan autistik pada anak sedini mungkin, Socconians dapat menentukan langkah selanjutnya untuk mendidik anak autistik, tentunya dengan dampingan para ahli. Pada tahun 1985, Princeton Child Development Institute melakukan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa dengan melakukan penanganan sejak dini sebelum anak menginjak usia 5 tahun, 40%—60% anak dengan gangguan autistik dapat diikutkan dalam sekolah biasa. Dari sekian banyak terapi yang dapat digunakan untuk membantu mendidik anak autistik, terapi ABA atau Applied Behaviour Analysis menjadi salah satu metodenya. Terapi ini akan membantu Socconians untuk mendidik anak autistik dengan gangguan dalam interaksi sosial.

Terapi ABA adalah metode terapi terstruktur yang mengajarkan anak-anak dengan gangguan autistik tentang sejumlah keterampilan khusus tanpa kekerasan. Terapi ini mengajarkan anak autistik agar dapat memahami dan menuruti perintah, berinteraksi dengan orang lain, memberikan deskripsi tentang sebuah objek, meniru ucapan dan gerakan orang lain, serta mengajarkan anak membaca dan menulis. Dalam sebuah penelitian, terapi ABA membuat anak autistik dapat berinteraksi sosial kembali dengan orang lain. Selain itu, terapi ini juga memiliki tujuan untuk:

  1. Membantu si anak agar mampu memperhatikan kesehatannya sendiri.
  2. Membantu si anak agar mampu mengendalikan emosi dan perilakunya sendiri.
  3. Membantu si anak agar mampu bermain kembali dengan teman sebayanya.

Nah, bagaimana cara melakukan terapi ABA? Terapi ini pada awalnya dilakukan dengan cara mengamati perilaku sang anak. Hal ini dilakukan agar terapis dapat melihat apa saja kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh sang anak. Lalu, terapis akan menentukan tujuan dari melakukan terapi ini, misalnya agar sang anak dapat melakukan kontak mata dengan orang lain saat berbicara. Selain itu, terapis juga akan menentukan indikator keberhasilan terapi ini, misalnya seberapa banyak sang anak melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya dalam waktu 10 menit.

Selanjutnya, terapis akan menyusun rencana-rencana kegiatan yang akan ia lakukan selama terapi berlangsung. Misalnya, ia menginginkan sang anak mampu melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya, maka hal yang pertama kali ia lakukan adalah duduk di depan sang anak dengan asisten terapis di belakang sang anak. Lalu, ia akan memanggil nama sang anak sambil memegang benda yang menarik. Benda itu ia arahkan sejajar dengan mata disertai dengan mengucapkan kalimat perintah, “Leo, lihat ke sini!”

Bila sang anak tidak merespons dengan baik, maka terapis akan mengucapkan, “Leo, tidak.” Namun, bila sang anak berhasil melakukan perintahnya, terapis akan memberikan pujian-pujian kepada sang anak. Hal itu ia lakukan berulang-ulang sampai sang anak melakukan kontak mata secara spontan. Nah, saat sang anak sudah dapat melakukan kontak mata, maka terapis akan melanjutkan terapi dengan tujuan yang baru. Dengan begitu, sang anak akan belajar banyak kemampuan baru yang nantinya membantu sang anak agar dapat kembali berinteraksi sosial dengan orang lain.

Meskipun demikian, seseorang harus memiliki sertifikat sebagai terapis perilaku dan punya pengalaman mendidik anak autistik untuk dapat melakukan terapi ABA. Selain itu, terapis juga harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Untuk itu, ayo didik anak Socconians yang mengidap gangguan autistik dengan melakukan terapi ini mulai sekarang! Hal ini bertujuan agar si anak dapat kembali berinteraksi sosial dengan temannya dan mampu merespon lingkungan sekitarnya dengan baik. Itulah cara mendidik anak autistik dengan terapi ABA. Semoga bermanfaat dan dapat membantu Socconians!

Referensi

Penulis : Reza Firnanto

Editor-in-Chief : Fikrianti Surachman dan Sulistia Ningsih

Editor Medis : Andreas Prasetyo Sianturi, S.Psi

Sumber Tulisan

  1. Hardiani, Ratna S. dan Sisiliana Rahmawati. (2012). “Metode ABA (Applied Behaviour Analysis): Kemampuan Bersosialisasi terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autis”. Jurnal Keperawatan Soedirman. Vol. 7 No. 1 Tahun 2012. Hlm. 1--9.
  2. Setiaji, Bamandhita R. (2018). “Seberapa Efektif Terapi Applied Behaviour Analysis (ABA) untuk Anak Autisme?”. Diakses dari laman hellosehat.com pada tanggal 25 Juli 2019.
  3. Swari, Risky C. (2018). “Apa itu Autisme?”. Diakses dari laman hellosehat.com pada 25 Juli 2019.
  4. Tim Penulis AloDokter. (2018). “Autisme”. Diakses dari laman AloDokter pada tanggal 25 Juli 2019.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.