• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
03 Jul

Mengenal Seluk-beluk SSD pada Remaja

by

Hi, Socconians!

Pernahkah ketika kamu hendak melakukan presentasi di depan kelas, tiba-tiba kamu merasakan rasa sakit yang parah di perutmu? Mungkin kamu juga pernah berkeringat dingin, kaki melemah, dan ingin pingsan? Padahal sesudah presentasi selesai, tidak ada lagi permasalahan yang dialami. Nah, kalau Socconians pernah mengalami ini, mungkin Socconians mengalami gejala somatisasi, yaitu ketika perasaan yang intens dan gugup pada mental membawa sensasi yang tidak nyaman bagi fisik individu. Nah, hal ini akan menjadi lebih serius ketika menjadi suatu gangguan yang terus menerus nih Socconians, Dinamakan Somatic Symptom Disorder, mungkin istilah ini masih terdengar sangat asing ya, Socconians. Jangan takut! Kali ini Social Connect akan mencoba membahas lebih lanjut mengenai gangguan yang satu ini nih, terutama pada remaja! Yuk, kita simak pembahasan berikut ini!

Somatic Symptom Disorder (SSD) merupakan suatu kondisi ketika seseorang merasakan kecemasan ekstrem mengenai sensasi fisik, seperti rasa sakit atau kelelahan, yang dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman pada individu yang mengganggu kehidupan sehari-harinya. American Psychiatric Association juga menjelaskan bahwa individu yang mengidap SSD akan memiliki pikiran, perasaan, dan perilaku yang berlebihan berkaitan dengan gejala fisik yang dialami. Rasa sakit yang dialami ini sering kali tidak disebabkan oleh gangguan fisik, sehingga secara kedokteran tidak dibutuhkan pengobatan, melainkan lebih membutuhkan pendekatan secara psikologis.

Selain rasa sakit, yang membuat gejala fisik ini menjadi suatu gangguan mental adalah bagaimana hal ini memengaruhi cara kerja fungsional individu di dalam kehidupan. Individu dengan SSD melaporkan adanya pemikiran, perasaan, dan tingkah laku sebagai berikut :

  1. Mengalami ketakutan berlebihan terhadap sensasi yang dirasakan di tubuh. Contoh : Batuk ringan bisa dipersepsikan sebagai penyakit yang kronis.
  2. Meragukan kredibilitas fasilitas kesehatan yang ada.
  3. Terus-menerus memeriksakan tubuh untuk melihat apakah ada gangguan.

Sebanyak 1 dari 10 anak di Amerika melaporkan keluhan akan adanya rasa pegal, sakit, dan tidak nyaman serta kecemasan berlebih terhadap kondisi badannya. SSD juga sangat umum ditemukan pada populasi remaja, di mana gejalanya bisa saja dimulai semenjak individu berusia balita. Gangguan ini kerap dipicu oleh kejadian stressful dalam hidup, atau adanya perubahan yang drastis dalam hidup. Namun menariknya nih Socconians, kecenderungan remaja tidak menafsirkan kejadian itu sebagai stress secara mental, loh! Oleh karena itu, tubuh mengolahnya menjadi suatu reaksi fisik yang berupa rasa sakit dan tidak nyaman, yang berakibat pada terganggunya kehidupan remaja.

Nah, siapa saja sih yang disebut sebagai remaja? Menurut WHO, remaja adalah individu yang memiliki rentang usia 10 hingga 19 tahun, di mana remaja merupakan masa transisi dari fase anak-anak menuju dewasa. Pada masa perpindahan ini, remaja lebih rentan mengalami SSDs dengan segala permasalahan dan pergolakan yang ada baik internal maupun eksternal. Di masa ini juga, remaja sedang pada proses pencarian jati diri.

Kejadian stressful dan perubahan drastis dalam hidup bukan menjadi satu-satunya pemicu dari SSD, ada beberapa kondisi yang menyebabkan remaja menjadi lebih rentan untuk terkena SSD, yaitu sebagai berikut:

  1. Kecenderungan remaja untuk memendam perasaan.
  2. Kesulitan dalam kemampuan otak untuk mengolah dan menafsirkan emosi.
  3. Faktor genetik
  4. Penyakit medis atau luka kecelakaan.
  5. Sensitivitas fisik individu terhadap rasa sakit.
  6. Pengalaman / trauma masa kecil.

Nah, ironisnya nih Socconians, SSD juga kerap menjerumuskan remaja kepada ketergantungan pada zat-zat berbahaya seperti alkohol hingga opium dan marijuana, loh! Zat-zat ini pada awalnya memang akan memberikan ketenangan yang bersifat instan. Padahal, secara jangka panjangnya, individu yang mengonsumsi zat-zat terlarang, akan mengalami peningkatan sensitivitas pada tubuh yang menyebabkan semakin parahnya gejala somatisasi. Waduh, jadi seram ya, Socconians!

Jangan takut dulu Socconians, kita bisa loh, mendukung teman-teman kita dengan menganjurkan mereka untuk pergi ke dokter dan memaparkan apa yang menjadi keluhannya, baru akan mendapat rujukan ke psikolog sekiranya dilihat bahwa gejala yang ada merupakan somatisasi. Lalu sebagai orang terdekat, kita harus tetap ada dan mendukung teman kita karena untuk mampu menerima kondisi yang dialami adalah suatu hal yang sangat berat, Socconians!

Nah, setelah membaca pemaparan di atas, semoga Socconians jadi lebih memahami ya, penyebab SSD pada remaja. Apabila Socconians merasa membutuhkan bantuan terkait hal-hal yang dirasakan baik secara fisik maupun psikis, jangan ragu-ragu untuk berkonsultasi kepada pihak profesional seperti dokter dan psikolog, ya! Juga, sebagai remaja, jangan lupa untuk terus menjaga kesehatan fisik maupun psikologis kamu, ya, Socconians!

Referensi

Penulis : Tsana Afrani, Nathania Bianca, dan Sepriandi

Editor-in-Chief : Finda Rhosyana dan Muhammad Azimi

Editor Medis : Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog

Sumber Tulisan : 

  1. Tim Penulis Psychology Today. (2017). “Somatic Symptom Disorder”. Diakses pada 9 Juli 2020 dari situs web Psychology Today.
  2. Tim Penulis American Psychiatric Association. (2018). “What is Somatic Symptom Disorder?”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari situs web psychiatric.org.
  3. Tim Penulis Mayo Clinic. (2018). “ Somatic Symptom Disorder - Symptoms and Causes”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari situs web mayoclinic.org.
  4. Tim Penulis American Academy of Child & Adolescents Psychiatry. (2017). “Physical Symptoms of Emotional Distress: Somatic Symptoms and Related Disorders”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari situs web aacap.org.
  5. Tim Penulis Children's Hospital. “Somatic Symptom and Related Disorders”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari situs web childrenshospital.org.
  6. Tim Penulis WHO. “ Adolescents Health”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari Who.int
  7. Silber, Pao. (2003). “ Somatizations Disorders in Child and Adolescents”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari situs web citeseerx.ist.psu.edu.
  8. Tim Penulis The Recoverry Village. (2020) “Somatic Symptom Disorder and Substance Abuse”. Diakses pada 11 Juli 2020 dari situs web therecoverryvillage.com.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.