• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
06 Jul

Somatic Symptom Disorder pada Remaja, Apa Saja Gejalanya?

by

Hai, Socconians!

Pernah merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan langsung berpikir kalau kamu mungkin punya penyakit parah, misalnya seperti tumor otak? Hati-hati, jangan-jangan itu salah satu tanda kalau kamu mengalami Somatic Symptom Disorder. Eits, jangan menyimpulkan dulu, mari kita kulik lebih lanjut.

Somatic Symptom Disorder atau yang biasa disingkat dengan SSD adalah salah satu diagnosis dalam dunia kesehatan mental yang baru terindeks di Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) pada tahun 2013. SSD biasanya ditandai dengan keluhan fisik yang terjadi terus-menerus disertai dengan pemikiran, perasaan, dan perilaku yang berlebihan terhadap gejala tersebut. Keluhan fisik yang dirasakan bisa jadi merupakan penyakit yang terdiagnosis secara medis maupun tidak. Akan tetapi, tidak semua pasien dengan keluhan fisik yang tidak teridentifikasi secara medis ini disebut SSD, lho, karena penekanan dari sindrom ini adalah munculnya pikiran, perasaan, dan perilaku yang berlebihan mengenai keluhan yang dirasakan.

SSD biasanya mulai muncul pada orang-orang pada usia 30 tahun, tetapi juga dapat muncul pada anak-anak maupun remaja. Kesengsaraan atau kemalangan, kondisi penuh tekanan, dan beberapa masalah kejiwaan lain seperti depresi atau kecemasan bisa menjadi faktor yang menyebabkan SSD ini timbul pada anak-anak dan remaja.

Hingga saat ini, belum ada data pasti maupun data statistik mengenai banyaknya remaja yang mengalami SSD, tetapi penelitian yang dilakukan di Swedia menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat sekitar 22,7% dari sampel berupa anak remaja usia 15--16 tahun mengalami gejala SSD baik disertai dengan masalah psikologi yang serius maupun tidak, dan sebagian besar merupakan remaja perempuan.

Secara umum, SSD ditandai dengan penderita yang mengalami gangguan fisik seperti nyeri atau sesak nafas, atau gejala umum seperti kelelahan serta merasa lemah. Gangguan fisik lainnya yang umum dirasakan khususnya pada penderita SSD remaja di antaranya adalah sakit kepala, sakit perut, pusing-pusing, kehilangan nafsu makan, dan kualitas tidur yang buruk. Dari gangguan-gangguan fisik tersebut, kemudian penderita SSD mulai mengalami gejala umum sebagai berikut.

  1. Gangguan fisik yang dialami tersebut bisa dirasakan bermacam-macam, dan terjadi terus-menerus setidaknya dua tahun yang keparahannya terjadi secara fluktuatif.
  2. Timbul rasa khawatir yang berlebihan terhadap gangguan fisik tersebut hingga penderita merasa sulit dan terganggu dalam beraktivitas sehari-hari. Pada kasus yang parah, penderita bisa mengalami depresi.
  3. Penderita SSD biasanya menganggap bahwa gangguan fisik yang dirasakannya dapat berdampak besar terhadap kondisi kesehatannya dan sulit untuk ditenangkan. Apabila ada yang mengatakan bahwa gangguan yang dirasakannya tidak separah itu, biasanya mereka akan menganggap orang tersebut (termasuk profesional seperti dokter, psikiater, dan lainnya) hanya menyepelekan gejala yang dialaminya.
  4. Orang yang menderita SSD biasanya lebih memilih untuk konsultasi pada pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas atau rumah sakit daripada psikiater atau ahli kesehatan mental lainnya. Penderita SSD ini bisa terus merasa takut dan khawatir meskipun sudah ada bukti bahwa mereka tidak memiliki kondisi kesehatan yang serius.
  5. Khususnya pada anak-anak dan remaja, mereka yang mengalami SSD ini kemungkinan akan sering mengunjungi dokter atau petugas medis lain di sekolah dan melakukan pemeriksaan medis lainnya yang disebut dengan “doctor shopping” karena tidak ada yang mendiagnosa penyakitnya seperti yang ditakutkan. Beberapa yang lain juga ada yang menghindari untuk diperiksa oleh tenaga medis karena merasa bahwa penyakitnya sudah tidak dapat disembuhkan. Bahkan ada juga dari mereka yang justru mencari tahu terkait gejala penyakit yang dialaminya melalui internet dan kemudian menyimpulkan sendiri kekhawatirannya.

Hal yang perlu Socconians tahu, bahwa penderita SSD ini tidak sengaja menyebabkan timbulnya gangguan tersebut maupun berpura-pura sakit, dan bahkan mereka juga tidak memalsukan rasa khawatir yang berlebih tersebut. Sebagai dampak dari gejala tersebut, penderita SSD biasanya akan cenderung bergantung pada orang lain serta membutuhkan bantuan dan dukungan emosional. Pada tahap yang lebih serius, SSD khususnya pada remaja dapat menyebabkan kecemasan akut, menghambat prestasi di sekolah, dan juga hubungan dengan keluarga dan teman-teman.

Nah, ada baiknya kalau Socconians mengalami satu atau beberapa gejala seperti yang disebutkan di atas, atau mendengar keluhan orang lain terkait gejala di atas, segera konsultasikan kepada ahlinya, seperti dokter, psikolog, atau ahli kesehatan mental lainnya yang profesional dalam bidang ini. Selain menambah pengetahuan, konsultasi kepada orang-orang yang profesional juga merupakan bentuk pencegahan SSD dan masalah kesehatan lainnya.

Referensi

Penulis : Nadhira Khairani, April, dan Sepriandi

Editor-in-Chief : Finda Rhosyana dan Muhammad Azimi

Editor Medis : Anissa Nur Khalida, S.Psi

Sumber Tulisan :

  1. Dimsdale, J.E. (2018). “Somatic Symptom Disorder”. Diakses pada 12 Juli 2019 dari website MSD Manual Professional Version.
  2. Hunt, J., & Patel, A. (2016). “Somatic Symptom Disorder”. Diakses pada 12 Juli 2019, dari website PM&R Knowledge Now.
  3. Maslim, R. (2013). “Diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5”. Jakarta: PT Nuh Jaya.
  4. Tim Penulis American Psychiatric Association. (2018). “What Is Somatic Symptom Disorder?”. Diakses pada 12 Juli 2019 dari website American Psychiatric Association.
  5. Tim Penulis Child Mind Institute. (2019). "Somatic Symptom Disorder Basics”. Diakses pada 12 Juli 2019 dari website Child Mind Institute.
  6. Van Geelen, S. M., Rydelius, P.-A., & Hagquist, C. (2015). Somatic symptoms and psychological concerns in a general adolescent population: Exploring the relevance of DSM-5 somatic symptom disorder. Journal of Psychosomatic. Research 79: 251-258. Doi:10.1016/j.jpsychores.2015.07.012. Diakses pada tanggal 12 Juli 2019 dari website Elsevier.
  7. Widyawinata, R. (2018). “Apa Itu Gangguan Somatisasi?”. Diakses pada 7 Juli 2019 dari website Hallo Sehat.


Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.