• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
13 Jul

Stres Memicu Somatic Symptom Disorder, Bisakah?

by

Halo, Socconians!

Sadar gak sih, pada usia menuju dewasa ini, remaja sangat rentan sama yang namanya stres. Baik dari hal yang serius hingga hal kecil, yang datang dari lingkungan, tugas, keluarga, pertemanan hingga hubungan dengan pasangan. Tenang saja, hal ini normal kok, karena usia remaja adalah masa ketika terjadinya pergolakan emosional dan pencarian jati diri, tetapi kita tetap harus memperhatikan dampak stres pada tubuh kita loh, Socconians. Stres yang berlebih dapat mengakibatkan berkurangnya produktivitas hingga munculnya gejala-gejala negatif, baik itu secara fisik maupun psikologis. Contohnya, adakah di antara kalian yang merasakan gejala sakit berkepanjangan tetapi bingung gejala sakit itu datangnya dari mana? Sekalipun sudah melaksanakan rangkaian pemeriksaan medis, kamu tetap dinyatakan baik-baik saja. Jika seperti itu, kalian boleh waspada nih, Socconians, karena bisa saja kalian mengalami gangguan somatis atau disebut juga dengan Somatic Symptom Disorder (SSD).

Somatic Symptom Disorder atau gangguan simtom somatis adalah satu kondisi yang melibatkan keluhan fisik yang terjadi tanpa adanya bukti patologi fisik untuk menjelaskan dari mana datangnya keluhan-keluhan fisik tersebut. Orang yang mengalami Somatic Symptom Disorder akan merasakan gejala sakit fisik seperti mual, pusing, pegal-pegal, kesemutan, dan berbagai gejala gangguan fisik lainnya yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu faktor risiko dari SSD adalah stres berlebihan. Respon dari stres tersebut akan menyebabkan tubuh meningkatkan aktivasi sinyal dan sensasi dalam tubuh secara terus-menerus. Apabila keadaan itu berlangsung dalam waktu yang lama, tubuh akan mengalami hipersensitivitas, yaitu kondisi di mana kemampuan mengenali sensasi yang dirasakan menjadi membingungkan dan kacau. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan kemampuan untuk memproses informasi menjadi lebih sulit, sehingga individu bisa merasakan keluhan fisik meskipun tidak ditemukan penjelasannya secara medis.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa Udayana tentang stres akademik yang dialami mahasiswa kedokteran tingkat pertama. Hasilnya menunjukkan bahwa stres dari kegiatan akademik dapat memicu munculnya gejala simtom somatik seperti yang dialami oleh penderita Somatic Symptom Disorder. Namun, pemberian diagnosis SSD yang tepat hanya boleh diberikan oleh dokter, psikolog, atau psikiater yang tersertifikasi. Hal ini dikarenakan gejala-gejala fisik yang dialami begitu mirip dengan gejala penyakit fisik seperti mag, masuk angin, dan kram otot. Selain itu, gejala-gejala tersebut juga kerap kali membuat seseorang menjadi parno atau khawatir yang berlebihan akan gejala yang dialaminya. Maka dari itu hal ini sangat perlu diperhatikan, apalagi jika gejala yang muncul sudah berlangsung hingga 6 bulan lebih dan terjadi secara intens.

Gimana, Socconians? Jadi penting banget ya buat kita sadar dengan tingkat stres yang ada di dalam diri kita, karena selain rentan akan pergolakan emosi, remaja juga rentan terkena Somatic Symptom Disorder. Bukan hanya remaja saja loh, orang yang dulunya memiliki penyakit kronis seperti kanker juga rentan terkena Somatic Symptom Disorder. Hal ini karena masih tersisanya trauma yang memicu stres dan memunculkan perspektif berlebihan dari dalam diri seseorang, sehingga masih dirasakan gejala-gejala yang mengakibatkan munculnya gejala sakit fisik.

Untuk itu Socconians, sangat penting bagi kita untuk bisa mengelola stres yang kita alami. Caranya? Kita bisa melakukan regulasi emosi dengan melaksanakan hobi, olahraga, melakukan aktivitas baru, ikut berkecimpung di kegiatan organisasi, dan masih banyak lagi lainnya.

Akhir kata untuk Socconians, jangan pernah takut untuk mencari bantuan dari profesional dan tetaplah menjaga kesehatan, baik fisik maupun psikologis, ya!

Referensi

Penulis: Annisyah Maulidinna, April, dan Sepriandi

Editor-in-Chief: Sulistia Ningsih, Finda Rhosyana, dan Muhammad Azimi

Editor Medis: Lisyanti, S.Psi

Sumber Tulisan:

  1. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fifth Edition. Washington DC:American Psychiatric Association.
  2. Hooley, J.M.,Butcher, J.,Mineka,S.,& Nock,M.K., Susan Mineka. (2018). Psikologi Abnormal Edisi 17. Jakarta Selatan: Salemba Humanika.
  3. Keskin G. (2019). “Approach to stress endocrine response: somatization in the context of gastroenterological symptoms: a systematic review”. African health sciences. Vol.19. No.3. Hlm. 2537-–2545.
  4. Saputra, I Made Riantama Adi, & Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya. (2019). “Peran Stress akademik dan hardiness terhadap kecenderungan gangguan psikofisiologis pada mahasiswa kedokteran tahun pertama”. Jurnal Psikologi Udayana. Vol. 06. No. 02. Hlm.1036--1048.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2025 All rights reserved.