• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
13 Jul

Terapi EMDR untuk Mengatasi Post-Traumatic Stress Disorder

by

Hai, Socconians!

Pernah dengar kalau gerakan mata bisa menjadi salah satu bentuk terapi untuk masalah psikologis? Nah, kali ini Social Connect akan membahas tentang terapi Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). Seperti namanya, terapi ini menggunakan stimulus bilateral yang umumnya berupa gerakan mata atau ketukan bunyi dalam membantu pasien menggali kembali pengalaman-pengalaman traumatisnya. Eits, perlu dipahami bahwa terapi ini berbeda, loh, dengan terapi hipnotis, karena dalam terapi ini pasien berada dalam keadaan sadar. EMDR merupakan salah satu jenis psikoterapi yang bertujuan untuk membantu menghadapi ingatan-ingatan traumatis yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, salah satunya yaitu Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) dengan waktu yang lebih singkat daripada psikoterapi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

PTSD adalah gangguan psikologis yang dialami seseorang karena adanya pengalaman yang menakutkan atau menimbulkan syok. Pengalaman ini dapat dialami oleh diri sendiri maupun oleh orang lain (contoh: menyaksikan langsung sebuah pembunuhan). Tidak semua orang yang mengalami kejadian traumatis tersebut berujung pada PTSD. Berdasarkan data dari Pusat PTSD Nasional di Amerika, sekitar 7-8% orang kemungkinan mengalami PTSD minimal sekali dalam hidupnya.

Konsep dari terapi EMDR untuk mengatasi PTSD ini adalah terapi dengan cara menggali ingatan yang bersifat traumatis, mengurangi kepekaan terhadap pemicu perasaan trauma, dan mengubah pandangan negatif terhadap kejadian traumatis tersebut menjadi pandangan yang positif dan lebih adaptif. Dengan begitu pasien diharapkan mampu untuk lebih menerima kejadian-kejadian traumatis yang pernah dialami.

Terapi EMDR terbagi menjadi 8 tahap. Nah, Socconians, berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam terapi EMDR.

1. Identifikasi masa lalu dan perencanaan terapi

Sebelum sesi terapi dimulai, terapis menilai kesiapan pasien untuk menjalankan terapi EMDR, termasuk menganalisis latar belakang pasien seperti pengalaman traumatis di masa lalu, serta kondisi saat ini yang menyebabkan pasien merasa terganggu. Lamanya tahap ini tergantung pada usia dan banyaknya trauma yang dialami oleh pasien. Pasien dan terapis berdiskusi terkait target yang ingin dicapai dari terapi ini.

2. Persiapan

Terapis memberikan penjelasan terkait prosedur terapi menggunakan EMDR, termasuk aplikasi dari eye movement atau stimulus bilateral lainnya. Terapis memperkenalkan pasien bahwa pada dasarnya pasien sendiri memiliki beberapa cara untuk mengatasi gangguan emosinya. Misalnya bisa dengan menyarankan beberapa teknik untuk mengurangi stres seperti mempraktekkan teknik pernapasan.

3. Penilaian (Assessment)

Mulai dari tahap ini pasien diharapkan dapat mengidentifikasi tiga hal, yaitu gambaran yang jelas terkait ingatan yang mengganggu, kepercayaan negatif tentang diri sendiri, serta emosi dan sensasi tubuh yang dirasakan. Selama sesi ini, terapis menggunakan alat ukur berupa Validity of Cognition dan Subjective Units of Disturbance, yang mana keduanya bertujuan untuk mengevaluasi perubahan pada emosi dan penafsiran terkait trauma yang dialami. Alat ukur yang digunakan ini merupakan alat ukur yang terstandar. Pada sesi ini mulai diterapkan penggunaan stimulasi pergerakan mata atau stimulasi bilateral lainnya (ketukan atau suara).

4. Desensitization

Pada tahap ini pasien diminta untuk menjelaskan pikiran-pikiran baru yang muncul selama mereka memfokuskan pada ingatan terkait trauma. Hal ini dipengaruhi oleh stimulasi bilateral yang diberikan oleh terapis. Stimulasi yang diberikan bisa seperti gerakan mata atau tepukan tangan. Proses ini akan terus berlangsung hingga pasien mengatakan bahwa ingatan traumatis yang pernah dialaminya tersebut tidak lagi mengganggu.

5. Installation

Pada tahap ini pasien memperkuat kembali pandangan positifnya terhadap trauma yang pernah dialami dengan cara yang lebih disukai. Pandangan positif tersebut merupakan hasil dari identifikasi yang dimulai pada tahap ketiga.

6. Body scan

Pasien diminta untuk mengobservasi respons tubuhnya selama memikirkan hal traumatis dan kognisi positif. Apabila masih merasa ada gangguan, maka diulangi kembali proses pemberian stimulasi bilateralnya.

7. Penutupan (Closure)

Tahap ini merupakan akhir dari sesi terapi. Namun, apabila target yang direncanakan pada tahap 1 tidak tercapai, terapis akan memberikan arahan khusus agar pasien tidak merasa terganggu hingga sesi atau kunjungan berikutnya. Biasanya terapis akan meminta pasien untuk menyimpan log atau jurnal berisi materi terapi yang berfungsi sebagai pengingat untuk menenangkan diri menggunakan cara yang telah dikuasai pada tahap-tahap sebelumnya.

8. Peninjauan ulang

Setelah sesi selesai, terapis harus tetap memastikan bahwa efek terapi tetap dirasakan oleh pasien.

Terapi EMDR ini dinilai banyak orang sebagai terapi yang efektif untuk mengatasi PTSD, termasuk WHO juga merekomendasikan terapi ini. Salah satu hal yang berbeda dari terapi lainnya adalah proses terapi yang mengubah cara pandang pasien terhadap trauma yang dihadapi menjadi pandangan yang positif dan lebih adaptif. Akan tetapi, masih banyak ilmuwan yang mempermasalahkan tentang bagaimana proses stimulus bilateral dapat berpengaruh terhadap perubahan persepsi. Ada juga yang berpendapat bahwa terapi ini menekankan efek positif yang dihasilkan karena adanya pemberian “imajinasi” selama tahapan terapi.

Nah, bagaimana menurut Soccononians? Jenis terapi apa pun pada dasarnya bisa dilakukan untuk mengatasi PTSD, tergantung dari kecocokan pada penderitanya itu sendiri. Jangan lupa untuk selalu konsultasi terlebih dahulu pada ahlinya, ya!

Referensi

Penulis: Nadhira

Editor-in-Chief: Fia dan Sulistia Ningsih

Editor Medis: Anissa Nur Khalida, S.Psi

Sumber Tulisan:

  1. Hout, Marcel A. V. D., Iris M. Engelhard. (2012). “How Does EMDR Work?”. Journal of Experimental Psychopathology. Vol. 3. Hlm. 724--738.
  2. Tim Penulis American Psychological Association. (2019). “Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) Therapy”. Diakses dari laman American Psychological Association pada tanggal 3 Agustus 2019.
  3. Tim Penulis EMDR Institute. (2019). “What is EMDR?”. Diakses dari laman EMDR Institute pada tanggal 3 Agustus 2019.
  4. Tim Penulis National Institute of Mental Health. (2019). “Post-Traumatic Stress Disorder”. Diakses dari laman National Institute of Mental Health pada tanggal 3 Agustus 2019.
  5. Tim Penulis World Health Organization. (2013). “WHO Releases Guidance on Mental Health Care After Trauma”. Diunduh dari laman http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2013/trauma_mental_health_20130806/en/

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2025 All rights reserved.