• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
14 Jul

Waspadalah! Abusive Relationship, Hubungan Ter-Toxic!

by

Apa kabar, Socconians?

Semoga saat ini sedang baik-baik saja, ya! Apa sih, kira-kira yang membuat kalian senang menjalani hidup? Mungkin, salah satu jawabannya adalah pasangan kalian, nih. Namun, tunggu dulu! Hubungan dengan pasangan juga dapat menjadi sumber toxicity, lho. Toxic relationship pun dapat mengarah ke kondisi yang membahayakan. Wah, bagaimana bisa? Yuk, periksa apakah hubungan kalian termasuk Abusive Relationship. Jika belum berpasangan, mari kenali supaya lebih waspada.

Abusive Relationship: Semua Harus Tentang Dia

Menurut Thomas L. Cory, Ph.D., suatu hubungan disebut toxic jika perilaku salah satu pihak dalam hubungan merugikan yang lainnya secara fisik, psikis, maupun emosional. Di dalam abusive relationship, seseorang diperlakukan seolah-olah derajatnya lebih rendah dan harus mengikuti kemauan, keinginan, dan kebutuhan pasangannya. Tindakan ini tentunya digolongkan toxic karena mengancam kesejahteraan salah satu pihak di dalam hubungan tersebut. Lalu, separah apa toxicity dalam abusive relationship ini?

Abusive relationship umumnya didasarkan dari ‘setiran’ salah satu orang dalam hubungan tersebut, bukan dari keputusan bersama-sama. Salah satu tandanya adalah ia berusaha menjadi yang paling berkuasa dalam hubungan dan berusaha melakukan berbagai hal untuk mengendalikan pasangannya. Perlu dipahami bahwa abuse bukanlah selalu menyangkut kekerasan karena suatu alasan, melainkan bagaimana seseorang secara tidak langsung terpaksa melakukan yang diinginkan pelakunya sambil meredupkan keinginannya untuk terbebas. Itulah sebabnya korban-korban abusive relationship terjerat dalam hubungan tidak sehat ini.

Fase-fase dalam abusive relationship adalah:

  1. Pelaku menjauhkan pasangan dari orang-orang terdekatnya dan membatasi komunikasi dengan orang lain. Setelah itu, pasangan mulai memiliki sedikit kesempatan untuk menghubungi siapa pun, mengejar impiannya, atau pergi menjauh darinya.
  2. Pelaku seringkali bertindak posesif, mengkritik dan merendahkan pasangan, dan bersikap seolah-olah ia adalah korban. Jika kondisi ini semakin parah, kekerasan dalam hubungan ini dapat mengarah ke kekerasan fisik.
  3. Saat korban ingin memutuskan hubungan, sikap pelaku berubah sebaliknya. Ia memberikan perhatian, kasih sayang, dan janji-janji secara berlebih (love-bomb) sehingga pasangan menjadi kembali yakin dengan perasaan cintanya. Padahal, pasangan justru berpeluang mengalami tindakan abusive yang lebih parah.

Selama hubungan berjalan, pelaku abusive relationship sering berganti antara bersikap abusive dan melakukan love-bombing pada saat-saat tidak menentu. Perilaku tersebut mengakibatkan pasangan termanipulasi hingga muncul perasaan bersalah saat tidak menuruti keinginannya. Akibatnya, hanya pasangannya saja yang berusaha dalam hubungan demi menyenangkan pelaku. Pasangan perlahan-lahan semakin tunduk dan kehilangan diri mereka hanya demi mempertahankan hubungan. Hubungan pun isinya hanya rasa takut. Tidak nyaman, bukan?

Dampak hubungan ini sangat fatal bagi kesejahteraan korbannya. Korban lebih rentan mengalami gangguan pola makan, luka-luka fisik, daya tahan tubuh yang rendah, serta berpotensi mengalami penyakit kelamin. Korban pun tidak terhindar dari masalah kesehatan mental, seperti gangguan depresi dengan tingkat parah, gangguan stres pascatrauma dari tingkat yang sedang hingga parah, hingga gangguan mood. Hal ini disebabkan karena perlakuan pasangan yang berulang dapat mengakibatkan trauma pada korban. Kondisi ini bisa semakin parah jika mereka mengatasi stres yang dialami dengan kebiasaan tidak sehat, seperti penggunaan narkoba, alkohol, rokok, dan lalai dengan kesehatannya.

Bukan Hanya Kekerasan Fisik

Pada umumnya, abusive relationship didominasi dengan segala usaha untuk mengendalikan hidup pasangannya. Bentuk abuse yang dilakukan adalah:

  1. Physical abuse. Terjadi ketika pelaku melakukan serangan fisik yang membahayakan atau berupa kekerasan seksual ketika memaksa korban melayaninya. Kekerasan fisik terhadap wanita sering terjadi dalam kasus abusive relationship di Indonesia, yaitu sebanyak 41%. dari total 348.446 kasus yang tercatat. Kekerasan fisik atau seksual dapat terjadi di berbagai tempat, seperti sekolah, kantor, atau di sekeliling tempat tinggal kita.
  2. Emotional abuse. Bentuk abuse ini menyerang kondisi psikis korban. Tujuannya adalah untuk menghancurkan harga diri dan rasa bebas pasangan sehingga pasangan menjadi bergantung pada pelaku. Contohnya seperti kekerasan verbal berupa penghinaan, ancaman, intimidasi, atau manipulasi. Bentuk kekerasan ini juga menjadi akar dari munculnya masalah kesehatan mental dalam hubungan.
  3. Financial abuse. Pelaku dapat mengendalikan pasangan dari segi finansial, seperti mengganggu karir, mencuri uang miliknya, hingga menghalangi akses pada kebutuhan dasar.

Ingat, siapa pun bisa menjadi pelaku dan siapa pun bisa menjadi korban! Maka dari itu, Socconians, yuk lebih bijak lagi memilih pasangan. Kalau kamu mengalami hal ini, jangan sungkan-sungkan ya untuk bercerita dengan orang yang kamu percaya dan mencari bantuan!

Referensi

Penulis : Stefani Amelinda

Editor-in-Chief : Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis : Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.

Editor Tata Bahasa : Dian Rotua Damanik dan Glaniz Izza

Sumber Tulisan :

  1. Cohan, D. J. (2019). “How to tell if you’re in an abusive relationship”. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2020 dari situs web https://www.psychologytoday.com/us/blog/social-lights/201907/how-tell-if-you-re-in-abusive-relationship
  2. Fierdha, S., & Vasandani, C. (2018). “Violence against women on rise in Indonesia: Report”. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2020 dari situs web https://www.aa.com.tr/en/asia-pacific/violence-against-women-on-rise-in-indonesia-report/1083224
  3. Lancer, D. (2020). “How to change the dynamics of an abusive relationship”. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2020 dari situs web https://www.psychologytoday.com/intl/blog/toxic-relationships/202006/how-change-the-dynamics-abusive-relationship
  4. Mechanic, M. B., Weaver, T. L., & Resick, P. A. (2004). “Mental health consequences of intimate partner abuse: A multidimensional assessment of four different forms of abuse”. Violence Against Women, 14(6), p. 634–654.
  5. Negara, C. A. (2018). “Bahaya Abusive Relationship yang Sering Tidak Kita Sadari”. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2020 dari situs web https://www.intothelightid.org/2018/08/16/bahaya-abusive-relationship-yang-sering-tidak-kita-sadari/
  6. Smith, M., & Segal, J. (2019). “Domestic violence and abuse”. Diakses pada tanggal 5 oktober 2020 dari situs web https://www.helpguide.org/articles/abuse/domestic-violence-and-abuse.htm
  7. Stockman, J. K., Hayashi, H., & Campbell, J. C. (2015). “Intimate partner violence and its health impact on disproportionately affected populations, including minorities and impoverished groups”. Journal of Women’s Health, 24(1), 62–79.
  8. Straight, E. S., Harper, F. W. K., & Arias, I. (2003). “The Impact of Partner Psychological Abuse on Health Behaviors and Health Status in College Women, 18 (9), 1035–1054.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2025 All rights reserved.