• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
15 Jul

Yuk, Cegah Kejadian Suicide di Sekitar Kita!

by

Halo, Socconians!

Bagaimana kabarmu? Semoga kamu dan keluarga sehat selalu, ya. Kali ini, kita membahas topik yang sangat menarik, yaitu cara mengenali dan mencegah terjadinya tindakan bunuh diri (suicide) di sekitar kita.

WHO (2016) menyatakan Indonesia berada di peringkat keempat berdasarkan jumlah pelaku bunuh diri terbanyak di Asia. Data yang ditemukan di Indonesia menyatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia produktif 15–29 tahun. Rata-rata kematian karena bunuh diri di Indonesia terjadi pada satu orang setiap jamnya. Tentunya, hal ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk bekerja sama dalam mengenali dan mencegah kasus bunuh diri yang ada di sekitar kita.

Faktor Risiko Suicide

Sebelumnya, apakah Socconians pernah mendengar berita mengenai orang-orang yang sepertinya terlihat bahagia tetapi berujung dengan mengakhiri hidupnya sendiri? Selain itu, apa kamu pernah mengutarakan kalimat-kalimat seperti, “Ya ampun, kok begitu saja sedihnya sampai berlebihan?” atau “Kamu tuh harusnya bersyukur karena masalahmu cuma seperti itu aja, banyak orang lain yang tidak seberuntung kamu lho!" Nah, kita harus menyadari bahwa setiap orang itu memiliki kepribadian dan ketahanan mental yang berbeda-beda. Beberapa orang bisa saja memiliki kerentanan dan risiko melakukan bunuh diri yang lebih besar daripada yang lainnya.

Berikut ini faktor risiko bunuh diri :

  1. Usia. Kematian akibat bunuh diri didapat sebesar 75% pada kelompok usia produktif (15–64 tahun).
  2. Jenis kelamin. Angka kasus bunuh diri lebih banyak didapati pada laki-laki dewasa muda terutama yang memiliki mekanisme coping stress berupa memendam.
  3. Gangguan kepribadian tipe ambang. Orang dengan gangguan kepribadian tipe ambang cenderung memiliki perilaku melukai diri sendiri (self-harm) atau melakukan tindakan bunuh diri yang lebih tinggi dibanding yang lainnya.
  4. Riwayat mengalami peristiwa traumatis sebelumnya, seperti kehilangan orang terdekat, hal berharga, atau pekerjaan; mengalami atau menjadi saksi tindakan kekerasan fisik atau seksual.
  5. Memiliki penyakit kronis.
  6. Memiliki gangguan cemas, panik, OCD, depresi, atau gangguan kesehatan mental lain sebelumnya.
  7. Riwayat ataupun sedang menggunakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif)

Tanda-Tanda Potensi Bunuh Diri pada Seseorang 

Tanda-tanda bahwa seseorang dapat berpotensi melakukan bunuh diri di kemudian hari antara lain sebagai berikut.

  1. Pernah mengatakan bahwa dirinya tidak berharga, tidak memiliki tujuan hidup lagi, atau secara langsung membicarakan tentang bunuh diri dan kematian.
  2. Adanya bekas luka menyakiti diri sendiri, seperti luka goresan di pergelangan tangan.
  3. Menarik diri dari lingkungan sekitar,
  4. Penurunan prestasi atau kinerja yang tiba-tiba.
  5. Perubahan suasana hati yang tidak terkendali, seperti mudah marah hingga melakukan tindakan impulsif.
  6. Adanya kecenderungan mengonsumsi alkohol atau zat lainnya secara terus-menerus untuk menenangkan suasana hati.
  7. Adanya riwayat pencarian akses akan senjata api, zat kimia berbahaya, atau benda tajam yang tidak digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Cara Mencegah Tindakan Bunuh Diri

Nah, pada tahap inilah kepekaan dan kepedulian terhadap orang sekitar menjadi modal bersama untuk mencegah tindakan bunuh diri. Kita dapat memulainya dengan mencoba mengajak orang tersebut berbicara secara personal dan menjadi pendengar yang baik. Hal itu dilakukan dengan menghindari ungkapan-ungkapan menghakimi, serta menanyakan kondisi mereka secara berkala. Lalu, perlahan-lahan kita bisa mengarahkannya untuk mulai mencari bantuan kepada psikolog klinis atau psikiater terdekat. Hal yang tidak kalah penting juga adalah membatasi aksesnya baik pada senjata tajam, maupun zat-zat berbahaya yang ada di lingkungan orang tersebut atau mengingatkan orang lain yang tinggal bersama mereka untuk melakukan hal tersebut.

Yuk, mari saling menjaga satu sama lain dengan peduli pada orang-orang di sekitar kita!

Halo, saya dr. Vania Rafelia, lulusan profesi dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana tahun 2018. Saat ini, saya sedang bekerja sebagai asisten penelitian Departemen Psikiatri FKUI-RSCM.

Referensi

Penulis: dr. Vania Rafelia

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi, Edward Christopher Yo

Editor Medis: dr. Vania Rafelia

Editor Tata Bahasa: Qotrun Nada Salsabila, Glaniz Izza

Sumber Tulisan :

  1. American Psychological Association. 2018. Suicide prevention Tools to help prevent youth suicide. Diakes dari: https://www.apa.org/topics/teen-suicide-prevention pada 30 November 2020.
  2. InfoDATIN Kemenkes RI. 2019. Situasi dan Pencegahan Bunuh Diri. Kemenkes RI.
  3. Jo A, Jeon M, Oh H. 2017. Age-differentiated Risk Factors of Suicidal Ideation among Young and Middle-aged Korean Adults. Osong Public Health Res Perspect.;8(3):201-210. doi:10.24171/j.phrp.2017.8.3.07
  4. Nock MK, et al. 2010. Cross-national Analysis of The Associations Among Mental Disorders and Suicidal Behavior: Findings From The WHO World Mental Health Surveys. PLoS Med.Aug;6(8):e1000123. doi: 10.1371/journal.pmed.1000123. Epub 2009 Aug 11. PMID: 19668361; PMCID: PMC2717212.
  5. Nock MK, Hwang I, Sampson NA, Kessler RC. 2010. Mental Disorders, Comorbidity and Suicidal Behavior: Results From The National Comorbidity Survey Replication. Mol Psychiatry. Aug;15(8):868-76. doi: 10.1038/mp.2009.29. Epub 2009 Mar 31. PMID: 19337207; PMCID: PMC2889009.
  6. Paris J. 2019. Suicidality in Borderline Personality Disorder. Medicina (Kaunas, Lithuania), 55(6), 223. https://doi.org/10.3390/medicina55060223
  7. Raue PJ, Ghesquiere AR, Bruce ML. 2014. Suicide Risk in Primary Care: Identification and Management in Older Adults. Curr Psychiatry Rep. Sep;16(9):466. doi: 10.1007/s11920-014-0466-8. PMID: 25030971; PMCID: PMC4137406.
  8. Suicide Prevention Resource Center, & Rodgers, P. 2011. Understanding risk and Protective Factors for Suicide: A Primer for Preventing Suicide. Newton, MA: Education Development Center, Inc.
  9. Valentina TD,Helmi AF. 2016. Ketidakberdayaan dan perilaku bunuh diri: Meta-Analisis. Buletin Psikologi Vol. 24 (2). 123-35. DOI:10.22146/buletinpsikologi.18175

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2025 All rights reserved.