• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Halo, Socconians!

Seperti yang sudah sering kita dengar, media sosial sangat berpengaruh pada kesehatan mental kita. Melalui aktivitas menggulir (scrolling) dan melihat unggahan teman-teman kita di media sosial, kita bisa mengetahui segelintir cerita kehidupan mereka: teman-teman yang baru saja berlibur dari Eropa, punya pacar baru, sampai yang baru dilamar atau menikah.

Kita pun mulai membandingkan diri dengan pengalaman mereka. “Kenapa, ya, aku belum bisa jalan-jalan ke Eropa?” “Udah umur segini, kok, aku belum punya pacar, ya?” Lalu, perasaan iri bisa saja muncul ketika kita menggulir layar: menilai diri kita tidak berhasil, kurang cantik, bahkan merasa tidak berguna.

Akan tetapi, Socconians tahu, tidak? Dalam definisi psikologis, hal yang kita lakukan di atas adalah self-evaluation dari self-image kita. Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Kita mengevaluasi gambar diri kita yang menurut kita kurang dengan cara membanding-bandingkan. Kemudian, kita membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot.

Menurut beberapa penelitian, kemerosotan self-image merupakan salah satu trigger dari menurunnya kesehatan mental kita, lo! Jadi, Socconians, kita mau menghindari supaya self-image kita tidak menurun. Cara-caranya bisa dipelajari di Social Connect! Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Membiasakan berpikir positif

Membiasakan berpikir positif bukan berarti memaksakan diri, ya, Socconians. Jangan sampai menimbulkan kecenderungan untuk memiliki sifat toxic positivity! Membiasakan berpikir positif maksudnya adalah ketika kita merasa terpuruk, kita belajar untuk melihat usaha yang sudah kita berikan. Ingatkan diri kalian sendiri bahwa kalian berharga!

Dengan membiasakan berpikir positif, pola pikir kita akan terbiasa untuk menghadapi masalah yang serupa ke depannya. Berpikir positif akan menjadi mekanisme koping (coping mechanism) yang membantu kita melangkah lanjut ke depan. Pada akhirnya, ketika kita membiasakan berpikir positif, self-image kita juga akan tampak positif melalui mata kita.

Biasakan berpikir seperti, “aku cukup”, “aku bisa berkarya”, “aku cantik/tampan”, “aku keren, lo, bisa ngelakuin [suatu hal]”. Kata-kata ini tidaklah menjijikkan, Socconians. Kebiasaan berpikir negatif dan pengaruh masa lalu kitalah yang membuat kita kesulitan berpikir positif!

Mengenali identitas diri kita (dengan mengenal, kita akan merasa cukup)

Dalam proses perkembangan dari usia muda sampai sekarang, mungkin kita sering mengalami yang namanya direndahkan. Perasaan bahwa kita tidak cukup bisa juga muncul karena masa lalu kita. Pengaruh itu bisa saja membentuk self-image kita yang sekarang.

Namun, hari ini kita harus berubah! Self-image kita dibentuk bukan karena orang lain merendahkan kita ataupun pikiran kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Lihatlah hasil karya dan kontribusi kita, keberhasilan dan kegagalan yang sudah kita lalui, serta kebaikan yang sudah kita berikan kepada orang lain. Kenali diri kita sendiri, know your worth and your identity.

“Aku tidak perlu seperti orang lain”.

Kita bisa mulai dengan menyuarakan kata-kata ini dalam pikiran kita atau secara verbal. Agar bisa berpikir demikian, menulis bisa membantu kita. Tuliskan apa saja yang berhasil kalian lalui. Tuliskan kelebihan diri kita. Jangan lupa tuliskan kebaikan yang dipuji teman-teman kalian!

Punya teman yang mau mengingatkan bahwa kamu berharga

Menyinggung soal teman-teman, jangan sampai lupa untuk memiliki circle pertemanan yang positif, ya, Socconians! Berusaha untuk mempelajari dua poin di atas akan menjadi sulit ketika orang-orang sekitar kita berusaha menjatuhkan kita. Kalau teman-teman kita senang bercanda dengan menjatuhkan kita, ajaklah mereka bicara baik-baik. Beri tahu bahwa kamu sedang ingin meningkatkan self-image kamu!

Jika mereka setuju, minta tolonglah agar teman-teman kamu menuliskan kebaikanmu. Minta tolong juga agar mereka membantu mengingatkanmu bahwa kamu berharga ketika kamu sedang terpuruk. Namun, jika mereka tidak setuju, jangan langsung marah dan merasa tidak adil. Mungkin saja mereka sedang tidak mood atau tidak biasa untuk memuji. Hal itu juga bisa merembet kepada akar permasalahan kalau mereka memiliki self-image yang rendah, lo!

Jadi, biasakan untuk melakukan hal yang serupa kepada teman-teman kita juga, Socconians. Dengan itu, pertemanan yang kalian bangun tidak menjadi sepihak, tetapi saling membangun.

Meningkatkan kepercayaan diri

Cara yang terakhir, yaitu dengan meningkatkan kepercayaan diri kita, sebenarnya diperkuat oleh dua poin teratas. Dengan berusaha untuk melihat self-image kita secara positif dari luar dan dari dalam, serta mengenali identitas kita, kepercayaan diri kita akan meningkat. Lalu, dengan melihat diri secara positif dan baik saja tidaklah cukup. Kita juga harus mempercayai gambar itu sehingga menjadi mendarah daging.

Dengan kita merasa percaya diri, kita percaya bahwa self-image kita itu positif dan baik. Gambar diri kita yang sudah menjadi positif dan baik kemudian akan dilihat orang-orang dengan baik juga. Selayaknya kita melihat diri sendiri, orang-orang di sekitar kita akan merasa hal yang sama.

Meningkatkan self-image tidak hanya perlu dilakukan dari luar dengan mempercantik diri: menyisir rapi rambut kita dengan gel, berdandan, atau pergi ke gym untuk membentuk tubuh kita. Namun, persepsi terhadap diri kita sendiri juga harus ditingkatkan. Jika Socconians masih merasa kesulitan untuk menjalani poin-poin di atas, Social Connect menyarankan untuk detox sementara dari media sosial. Fokus untuk menguatkan diri dahulu, baru kita bisa kembali untuk memandang diri secara baik dan positif!

Yuk, Socconians, kita coba cara-cara di atas supaya kita bisa meningkatkan self-image kita!

Referensi

Nama Penulis: Michelle Adi Nugraha, S. Psi.
Editor Tata Bahasa: Ruth Margaretha M. H.
Sumber Tulisan:
  1. Bailey, J. A. (2003). Self-image, self-concept, and self-identity revisited. Journal of The National Medical Association, 95(5), 383–386.
  2. Mann, M. (2004). Self-esteem in a broad-spectrum approach for mental health promotion. Health Education Research, 19(4), 357–372. https://doi.org/10.1093/her/cyg041
  3. Ramadhani, T. N., & Putrianti, F. G. (2017). HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN CITRA DIRI PADA REMAJA AKHIR. JURNAL SPIRITS, 4(2), 22. https://doi.org/10.30738/spirits.v4i2.1117

Artikel Lainnya!

12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More
03 Aug

Detoks Digital agar Hidup Lebih Bermakna

by Nanda Puteri Syahrah, S.Psi

Pernahkah Socconians tahu tentang detoks dalam menggunakan internet? Jika sudah ketergantungan dalam menggunakan internet dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik kita, lho! apalagi jika tidak segera ditangani. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memperbaikinya ialah dengan melakukan detoks digital.

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.