• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
24 Jul

Antisosial vs Introvert: Apakah Sama?

by Nabilla Dewi Septiani

Hi, Socconians!

Untuk kamu yang memiliki sifat introver, pernah gak sih kamu atau teman mungkin berkata “Aku ansos” atau “Aku antisosial, nih” karena sering menghabiskan waktu sendirian? Socconians tahu gak, kalau introver bukan berarti antisosial, lho! Mau tahu apa saja perbedaan dari antisosial dan introver? Yuk baca lebih lanjut artikel Social Connect ini!

Apa itu antisosial?

Antisosial adalah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan orang yang mengalaminya abai terhadap norma sosial dan cenderung tidak peduli terhadap diri sendiri maupun orang lain. Penyebab terjadinya antisosial masih belum diketahui secara pasti. Namun, antisosial dicurigai terjadi terkait dengan adanya gangguan pada moral brain. Area yang mengalami disfungsi adalah amigdala, bagian sistem limbik yang berperan dalam emotional learning, aversive conditioning, respons terhadap rasa takut, dan emosi lain. Oleh sebab itu, individu antisosial yang memiliki gangguan pada amigdala akan sulit untuk bersosialisasi.

Walaupun sulit untuk bersosialisasi, seorang antisosial bukan berarti penyendiri. Antisosial adalah gangguan kesehatan mental yang penderitanya akan memperlakukan orang lain dengan buruk, tidak menepati janji hingga melanggar kepercayaan, dan mengatur tanpa adanya rasa penyesalan. Ketika seorang antisosial mendapatkan pengasuhan yang baik, mereka juga dapat berperilaku baik dan menarik perhatian orang lain. Mereka dapat menyanjung dan memanipulasi orang, bahkan mempermainkan emosi mereka dengan cerdik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Sedangkan seorang antisosial yang mendapatkan pengasuhan buruk dari keluarganya, mereka dapat menunjukkan perilaku kriminal. Misalnya seperti kerap berselisih dan melakukan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri tanpa adanya rasa menyesal.

Apa itu Introver?

Introver merupakan salah satu spektrum dari ciri pribadi atau sifat pribadi seseorang yang merupakan pembawaan mereka dari lahir dan bukan merupakan suatu gangguan kepribadian atau gangguan kesehatan mental. Seorang introver merupakan individu yang berpusat pada dirinya sendiri, dalam artian mereka cenderung lebih menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang-orang dengan jumlah banyak.

Introver biasanya dianggap lebih pendiam. Ketika dalam keadaan sosial, energi mereka akan terkuras selama berinteraksi. Untuk mengembalikan energi tersebut, mereka biasanya membutuhkan waktu untuk menyendiri atau “me time”.

Perbedaan Antisosial dengan Introver

Berdasarkan penjelasan di atas, Socconians mungkin sudah dapat melihat perbedaan mendasar antara antisosial dengan introver. Untuk lebih jelasnya, berikut ini 5 hal yang menjadi pembeda antara perilaku antisosial dengan introver:

1. Introver merupakan sifat kepribadian sedangkan antisosial adalah gangguan kepribadian.

Sifat kepribadian adalah karakteristik yang ada pada diri seseorang dan cenderung tidak dapat diubah. Itu berarti, menjadi introver merupakan bagian dari diri kamu sendiri dan hal itu yang membuatmu unik. Tidak ada ciri kepribadian yang baik ataupun buruk.

Berbeda dengan introver, antisosial merupakan sebuah gangguan kepribadian atau kesehatan mental. Orang yang menunjukkan perilaku antisosial tidak peduli dengan norma sosial dan cenderung melakukan tindak kriminal.

2. Hubungan dengan orang lain.

Orang yang menderita gangguan kesehatan mental antisosial mengalami kesulitan dalam membentuk dan memelihara hubungan. Mereka tidak memahami hubungan dan tidak dapat berempati dengan orang lain.

Sementara itu, introver sangat mampu memiliki hubungan yang sehat dan bermakna dengan orang lain. Meskipun mereka mungkin cenderung fokus terhadap diri sendiri ketimbang orang lain, bukan berarti mereka tidak kompeten dalam bersosialisasi.

3. Perilaku pemalu.

Cara termudah untuk mengetahui apakah seseorang introver adalah jika mereka tampak pemalu saat pertama kali bertemu. Tidak seperti ekstrover, introver lebih suka menyendiri dan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dalam percakapan.

Di sisi lain, orang dengan antisosial bisa menjadi sangat ramah ketika mereka membutuhkannya. Mereka suka menggunakan pesona mereka untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya agar memberikan apa yang mereka inginkan. Mereka bisa menjadi berani, menggoda, dan bersuara lantang ketika mereka menginginkannya.

4. Siapa saja dapat menjadi introver.

Introver dianggap sebagai salah satu ciri kepribadian universal yang dimiliki oleh orang dari latar belakang yang berbeda dalam berbagai tingkat, budaya, maupun usia. Sebaliknya, hanya sedikit dari populasi yang benar-benar dianggap antisosial dan dibutuhkan diagnosis oleh ahli untuk menentukan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental antisosial.

5. Perubahan atau penyembuhan.

Seperti gangguan kesehatan mental lainnya, gangguan kesehatan mental antisosial adalah kondisi serius yang membutuhkan terapi dan pencegahan psikososial untuk mengobatinya. Orang yang didiagnosis antisosial perlu direhabilitasi karena kurangnya penyesalan yang mereka rasakan atas kesalahan mereka serta adanya kecenderungan melakukan tindak kriminal.

Di sisi lain, tidak ada salahnya menjadi seorang introver. Berbeda dengan antisosial, introver merupakan spektrum dari ciri pribadi seseorang dan bukan merupakan suatu gangguan kepribadian atau kesehatan mental. Memiliki kepribadian introver berarti kamu lebih menikmati kebersamaan dengan diri sendiri daripada bersama orang lain dan perlu waktu sendiri untuk memulihkan tenagamu.

Nah, setelah membaca artikel Social Connect ini, sekarang Socconians sudah tahu kan letak perbedaan antara antisosial dengan introver? Stereotype yang menyamakan introver dengan antisosial justru dapat mengganggu kesehatan mental para introver. Jadi, jika ada teman kamu yang suka menyendiri atau lebih banyak diam ketika berinteraksi, jangan langsung melabeli mereka dengan sebutan “antisosial”, ya!

Referensi

Penulis : Nabilla Dewi Septiani

Editor-in-Chief : Kabrina Rian

Editor Medis : Sherly Deftia Agustina, S.Ked

Editor Tata Bahasa : Christina Intania Ariwijaya dan Hafiza Dina

Sumber Tulisan :

  1. Chloe. (2019). “6 Differences Between Introversion and Anti-Social Behavior”. Diakses pada tanggal 2 September 2020 dari situs web psych2go.net
  2. Dominika dan Virlia, S. (2018). “Hubungan Tipe Kepribadian Ekstrovert-Introvert dengan Penerimaan Sosial pada Siswa. Konselor”. Volume 7. Halaman 31--39.
  3. Ehrenfeld, T. (2018). “Don’t Say You’re “Anti-Social””. Diakses pada tanggal 2 September 2020 dari situs web psychologytoday.com
  4. Petric, D. (2019). “Introvert, Ekstrovert and Ambivert”. Diakses pada tanggal 2 September 2020 dari situs web researchgate.net
  5. Sajogo, I dan Budiyono, D.A. (2012). “Antisosial: Fokus pada White-Collar Crime”. Jurnal Psikiatri Surabaya. Volume 1. Halaman 1-11.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.