• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
19 Jul

Apakah OCD dan Eating Disorder Saling Berhubungan?

by Cori Maryani

Halo, Socconians!

Kesehatan mental seseorang sangatlah penting. Sama halnya dengan kesehatan fisik, kesehatan mental pun perlu dijaga agar kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan maksimal. Namun, banyak yang masih mengabaikan hal ini. Bahkan di Indonesia, banyak kasus orang dengan gangguan kesehatan mental merasa malu ataupun takut untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater karena merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Nah, Socconians, artikel Social Connect kali ini akan membahas tentang Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan bagaimana hubungannya dengan Eating Disorder (ED).

Gangguan Obsesif Kompulsif merupakan jenis gangguan mental ketika penderitanya selalu diliputi perasaan cemas atau takut. Nah, untuk mengatasi perasaan tersebut, penderita akan melakukan suatu hal secara berulang-ulang atau berlebihan. Di satu sisi, penderita ini sadar bahwa ia melakukan suatu hal tersebut secara berlebihan, tapi ia juga tidak dapat menghindarinya. Lantas, apa saja yang menyebabkan seseorang dapat mengidap gangguan mental ini?

Ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan ini. Faktor internal berasal dari dalam diri si penderita ini sendiri, seperti adanya gangguan mental lain yang dialaminya. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari lingkungan di sekitarnya seperti mempunyai keluarga yang juga mengidap gangguan ini atau pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitarnya.

Mungkin beberapa dari Socconians bertanya-tanya, “Lantas, apakah orang yang melakukan diet super ketat karena takut terlihat gemuk juga bisa dikategorikan sebagai orang yang mengidap OCD?” Atau sebaliknya, “Apakah orang yang mengidap OCD juga akan mengalami gangguan makan atau eating disorder?” Sebelum menjawab pertanyaan ini, Socconians perlu tahu dulu nih apa itu eating disorder.

Gangguan makan atau eating disorder adalah keadaan dimana seseorang merasa sangat cemas dan takut jika terlihat terlalu kurus atau gemuk. Alhasil, si penderita ini akan mengurangi porsi makan secara ekstrem atau mengonsumsi makanan secara berlebihan. Faktor pemicu ED juga berupa faktor internal (hormon, zat kimia otak, dan kurangnya zat gizi) dan faktor eksternal seperti mendapat ejekan dari orang lain.

Lalu, apakah OCD and ED adalah dua hal yang sama?

Pada dasarnya, kedua hal ini adalah jenis gangguan mental yang berbeda. Namun, menurut penelitian, keduanya memiliki gejala yang hampir mirip yaitu penderita mengalami kecemasan berulang-ulang mengenai suatu hal yang mengakibatkan penderita melakukan tindakan tertentu secara berlebihan. Sifat yang dimiliki oleh pengidap OCD dan ED juga umumnya sama diantaranya adalah sifat perfeksionis dan impulsive.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang mengalami ED memiliki kemungkinan 11%-69% lebih tinggi untuk mengidap OCD. Sebaliknya, orang yang mengidap OCD memiliki peluang 10%-17% lebih tinggi untuk mengalami ED. Penelitian ini juga melaporkan bahwa 41% dari 64% orang dengan ED juga mengidap OCD. Uniknya, penelitian tahun 2003 menunjukkan bahwa perempuan yang menderita OCD saat kecil beresiko lebih tinggi untuk mengidap ED ketika dewasa.

Lantas, apa yang menjadi pembeda antara OCD dan ED?

Tingkah laku yang ditunjukkan oleh penderita OCD hampir mirip dengan penderita ED, sehingga untuk memutuskan apakah seseorang menderita OCD atau ED, perlu diteliti motif di balik perilaku tersebut. Jika motifnya berhubungan dengan penampilan tubuh, maka orang tersebut kemungkinan mengidap ED. Terdapat juga kasus di mana penderita OCD secara tidak sengaja kehilangan berat badan atau bertambah berat badan secara drastis akibat dari OCD yang ia alami. Hal lain yang membedakan adalah penderita OCD merasa bertentangan dengan pikiran dan kebiasaan yang dilakukannya sehingga ia akan berusaha untuk menghilangkan pikiran dan kebiasaan tersebut. Sebaliknya, penderita ED merasa pikiran dan kebiasaannya adalah bagian dari identitas dirinya sendiri.

Nah, sekarang sudah lebih paham kan mengenai OCD dan hubungannya dengan ED? Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai OCD, Socconians bisa cek artikel Social Connect lain yang membahas topik ini lho! Pastinya artikel di Social Connect sudah di-review oleh para ahli kejiwaan. So, happy reading!

Referensi

Penulis: Cori Maryani

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Pandhit Satrio Aji S. Psi

Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Sulistia Ningsih

Sumber Tulisan :

  1. Altman, S. E., & Shankman, S. A. (2009). “What is the Association Between Obsessive–Compulsive Disorder and Eating Disorders?”. Clinical Psychology Review, Vol. 29(7). Hal. 638--646.
  2. Cowden, S. (2020). “Obsessive-Compulsive Disorder and Eating Disorders”. Diakses dari laman verywellmind.com pada tanggal 14 September 2020.
  3. Kregiel, B. (2020). “Eating Disorders and OCD: A Complicated Mix”. Diakses pada dari laman waldeneatingdisorders.com tanggal 14 September 2020.
  4. Neziroglu, F., & Sandler, J. (2009). “The Relationship Between Eating Disorders and OCD Part of the Spectrum”. Diakses dari laman iocdf.org pada tanggal 14 September 2020.
  5. Setiaji, Rr. (2018). “4 Penyebab Gangguan Makan (eating disorder) yang Mesti Anda Kenali”. Diakses dari laman hellosehat.com pada tanggal 13 September 2020.
  6. Tim Penulis Alodokter. (2019). “OCD (Obsessive Compulsive Disorder)”. Diakses dari laman alodokter.com pada tanggal 13 September 2020.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.