• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
12 Jul

Budaya Selfie dan Gangguan Dismorfik Tubuh pada Remaja

by

Hai, Socconians!

Pasti Socconians sudah tidak asing lagi dengan istilah selfie, bukan? Nah, apa Socconians juga termasuk orang yang sering selfie?

Selfie merupakan suatu kegiatan mengambil foto diri atau bersama dengan orang lain menggunakan kamera digital, kamera handphone, maupun jenis perangkat genggam lainnya yang dilakukan oleh diri sendiri. Beberapa tahun belakangan ini, selfie merupakan hal yang acap kali dilakukan oleh kebanyakan orang, khususnya para remaja. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2014, sekitar 93 juta selfie dilakukan oleh pengguna smartphone setiap harinya. Selain itu, sekitar 880 miliar foto dibagikan ke sosial media yang mana 30% dari foto tersebut merupakan foto selfie yang diunggah oleh remaja.

Biasanya para remaja mengunggah foto-foto hasil selfie sebagai salah satu cara untuk mempresentasikan diri (self-presentation), meningkatkan kepercayaan diri, mempromosikan diri, bahkan sebagai bentuk manajemen stres. Akan tetapi bagi orang-orang yang memiliki masalah terhadap citra tubuh atau body image, kegiatan selfie ini memberikan makna yang berbeda. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pengguna sosial media yang memiliki masalah terhadap body image cenderung melakukan selfie secara berlebihan. Bagi mereka, selfie merupakan salah satu tolok ukur untuk menilai penampilan diri dan membandingkannya dengan penampilan orang lain, tidak jarang hal ini hingga memicu mereka mengalami depresi. Hal ini juga bisa memicu gangguan lain yang lebih ekstrem, salah satunya adalah munculnya gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder).

Gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi ketika seseorang sangat terobsesi terhadap kekurangan fisiknya yang cenderung bersifat minor atau bahkan hanya merupakan imajinasinya saja. Seseorang dengan gangguan dismorfik tubuh umumnya memiliki kebiasaan terlalu sering bercermin, melakukan perawatan tubuh secara berlebihan, sering bergonta-ganti pakaian untuk mengurangi rasa cemasnya, bahkan menjauh dari orang-orang karena khawatir penampilannya akan dinilai buruk oleh orang lain. Sering kali orang-orang dengan gangguan ini dianggap sombong atau terlalu berlebihan. Padahal bagi mereka yang memiliki gangguan ini, kekurangan fisik atau masalah pada penampilan sedikit saja dapat menjadi ancaman yang sangat besar hingga memengaruhi kehidupan sosial mereka. Kekurangan fisik yang dimaksud ini bisa jadi dianggap sepele oleh orang lain, seperti kulit berjerawat, badan yang tidak berotot atau bentuk tubuh yang berbeda dari orang lain.

Gangguan dismorfik tubuh biasanya muncul di masa remaja. Sebuah penelitian menunjukkan hasil bahwa gangguan ini lebih banyak dialami individu di usia 15--18 tahun, dan cenderung tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Bagian tubuh yang sering kali menjadi fokus perhatian pada remaja dengan gangguan ini di antaranya adalah kulit, rambut, dan bentuk wajah. Lebih spesifik lagi, bagian wajah yang sangat diperhatikan oleh remaja dengan gangguan ini di antaranya adalah hidung, mata, lipatan mata, mulut, bibir, rahang, dan dagu.

Lantas, apa hubungan gangguan dismorfik tubuh ini dengan budaya selfie?

Belakangan ini, tampak menarik di media sosial menjadi salah satu tolok ukur bagi remaja untuk mendapatkan popularitas di dunia maya dan selfie merupakan salah satu cara untuk menunjukkan penampilan mereka. Beberapa aplikasi media sosial yang terintegrasi dengan kamera acap kali menambahkan fitur-fitur selfie yang bisa mempercantik diri atau yang kita kenal dengan filter seperti yang ada pada aplikasi Snapchat, Instagram, dan lain sebagainya. Nah, Socconians, salah satu fakta unik mengenai ini adalah bahwa fitur filter tersebut dapat mendorong penggunanya hingga melakukan operasi plastik agar wajahnya sesuai dengan apa yang ditampilkan pada hasil selfie dengan fitur tersebut.

Sebuah survey oleh American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery pada tahun 2013 menunjukkan bahwa kebiasaan selfie menjadi salah satu faktor pendorong anak muda untuk melakukan operasi plastik dan menyumbang peningkatan sebesar 10% pada operasi hidung, 7% pada transplantasi rambut, dan 6% pada operasi lipatan mata. Fenomena seperti inilah yang sering kali menjadi pemicu munculnya gejala gangguan dismorfik tubuh. Ada juga yang berpendapat bahwa operasi plastik juga merupakan salah satu dampak dari gangguan dismorfik tubuh karena dianggap dapat membantu mengurangi kecemasan. Padahal hal ini justru berefek pada keinginan penderita untuk terus-menerus melakukan operasi plastik karena berharap akan mendapatkan hasil seperti yang mereka inginkan.

Nah, bagaimana dengan pendapat Socconians?

Budaya selfie pada remaja memang bisa memberikan dampak positif maupun negatif dan untuk kasus yang ekstrem bisa menimbulkan gangguan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada zaman sekarang ini, selfie sudah menjadi hal yang wajar, bahkan tidak hanya di kalangan anak muda. Penggunaan fitur aplikasi seperti efek filter pun tidak ada salahnya selama kita menanggapi hasil selfie dengan wajar. Apabila Socconians merasa ada hal yang mengganggu seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ahlinya, ya!

Referensi

Penulis : Nadhira

Editor-in-Chief : Finda Rhosyana, Alifia Salsabila

Editor Medis : Lisyanti, S.Psi.

Sumber Tulisan :

  1. Ehmke, Rachel. (2019). “What Is Body Dysmorphic Disorders?”. Diakses pada 08 Agustus 2019 dari website Child Mind Institute.
  2. Boursier, V dan Manna, V. (2018). Selfie Expectancies Among Adolescents: Construction and Validation of An Instrument to Assess Expectancies Toward Selfies Among Boys and Girls. Frontiers in Psychology. Research: 9: 1-14. Doi:10.3389/fpsyg.2018.00839. Diakses pada 08 Agustus 2019 dari website Research Gate.
  3. Khanna, Anisha dan Shama, Manoj K. (2017). Selfie Use: The Implication for Psychopathology Expression of Body Dysmorphic Disorder. Industrial Psychology Journal. Research 26: 106-109. Doi: 10.4103/ipj.ipj_58_17. Diakses pada 08 Agustus 2019 dari website PubMed Central.
  4. Rogers, Cameren. (2018). “Snapchat Dysmorphia: Seeking Selfie Perfection”. Diakses pada 08 Agustus 2019 dari website WebMD.
  5. Schneider, Sophie.C, dkk. (2016). Prevalence and Correlates of Body Dysmorphic Disorder in A Community Sample of Adolescents, Australian & New Zealand Journal of Psychiatry. Research: 1-9. Doi: 10.1177/0004867416665483. Diakses pada 08 Agustus 2019 dari website Sage Pub.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.