• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
13 Jul

Gagap Bukan Candaan: Pengidap Gagap dalam Masyarakat

by

Halo, Socconians!

Kalau mendengar kata gagap, mungkin beberapa di antara kita langsung teringat pada salah satu komedian Indonesia yang bernama Azis Gagap. Ia dikenal dengan gaya bicaranya yang gagap dan terbata-bata yang membuat lawan mainnya ataupun penonton ikut gemas dan tertawa ketika ia sedang berbicara. Sadarkah kita kalau ternyata gagap adalah sebuah gangguan bicara pada seseorang? Hal tersebut sebenarnya bukan sebuah hal yang disengaja yang dijadikan sebuah candaan saja lho, Socconians.

Gagap (stuttering) dapat juga disebut dengan stammering adalah sebuah gangguan bicara yang ditandai dengan ketidaklancaran proses keluarnya perkataan pada berbicaranya secara berulang. Di dunia, terdapat sekitar 67 juta orang yang menderita gangguan berbicara atau gagap. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil. Ada banyak orang di dunia yang berbicara gagap. Namun, ketika kita melihat atau mendengar seseorang kesulitan untuk mengutarakan suatu kata, banyak yang menjadikannya bahan olokan, bullying, atau bahkan timbulnya rasa kasihan yang sebetulnya tidak perlu.

Beberapa mitos di bawah ini yang sering dibicarakan oleh masyarakat mengenai stuttering, tetapi ternyata belum tentu benar juga. Yuk, kita lihat ada mitos apa saja yang sering melekat di dalam masyarakat!

Dianggap Memiliki Kecerdasan yang Rendah

Tidak adanya keterkaitan antara gangguan bicara dengan kecerdasan yang dimiliki seseorang. Beberapa tokoh dunia yang ternyata memiliki gangguan berbicara, di antaranya Albert Einstein (peraih nobel fisika), Charles Darwin (ilmuwan), Marilyn Monroe (aktris dan model), Ed Sheeran (penyanyi), dan masih ada beberapa tokoh hebat lainnya. Jadi, mitos tersebut salah ya, Socconians, karena memang tidak ada sangkut pautnya antara gagap dengan tingkat kecerdasan seseorang.

Cenderung Lebih Pemalu

Pengidap gagap baik yang sudah dewasa maupun anak-anak terkadang memiliki keraguan untuk berbicara, meski sebenarnya ia tidak memiliki sifat pemalu seperti yang kita kira. Beberapa di antaranya ada yang berhasil keluar dari keraguannya dan mereka dapat menjadi pribadi yang tegas dan banyak bicara. Hal itu pun dapat terlihat banyak pula penderita gagap yang menduduki posisi pemimpin dalam suatu organisasi.

Buruknya Pola Asuh Orang Tua Penyebab Gagap

Ketika seorang anak gagap, belum tentu hal tersebut penyebabnya dari kesalahan orang tuanya. Stres pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan penyebab anak menjadi seorang pengidap stutter, tetapi itu bukan satu-satunya faktor.

Gagap Itu Sebuah Kebiasaan, Bisa Dihilangkan Jika Kita Mau

Meski menjadi gagap terdapat banyak pembentuknya, tetapi menjadi gagap bukanlah berasal dari kebiasaan karena gagap merupakan suatu gangguan berbicara berdasarkan kondisi neurologis. Banyak stutter yang bahkan masih terus berjuang untuk dapat lancar ketika berbicara bahkan sampai ia dewasa.

Nah Socconians, hal lain yang menjadi penting ketika kita berbicara dengan seorang penderita gagap ialah penderita gagap ingin dianggap bahwa ia dapat berbicara sama seperti kita pada umumnya. Jadi, fokuslah pada hal yang dibicarakan bukan pada cara berbicaranya. Pengidap gagap pun paham bahwa ia kesulitan untuk mengungkapkan perkataannya yang bahkan akan terkesan begitu lama dan kita sebagai pendengar pun harus sadar akan hal itu. Ketika mereka kehilangan kendali atas hal yang ingin mereka ungkapkan, mereka akan gelisah dan berujung pada malu dan takut jika ingin memulai berbicara kembali. Kita sebagai pendengar harus tenang dan sabar agar mereka tidak makin kesulitan untuk mengungkapkan perkataannya kepada kita.

Berdasarkan beberapa pandangan dan juga mitos di atas, orang dengan stutter sering kurang dianggap ketika berada di masyarakat. Mereka cenderung hanya menjadi sebuah objek olok-olokan atau bahkan dikasihani karena kesulitan bicara. Oleh karena itu, Indonesian Stuttering Community (ISC) mencoba untuk membongkar stigma atau pandangan negatif yang ada di masyarakat yang berkenaan dengan pengidap gagap. ISC ingin teman-teman pengidap stutter dapat lebih dianggap dalam masyarakat, dan tidak hanya menjadi sebuah candaan yang sering kita dengar. Tiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, berdamai dengan kekurangan adalah tugas untuk diri sendiri dan juga orang sekitar, agar kita lebih mampu untuk saling menghargai dan memanusiakan sesama manusia. Stuttering No More, Let Us Come To the Fore!

Referensi

Penulis: Yulia Wita

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi

Editor Tata Bahasa: Iis Sahara dan Shinta

Sumber Tulisan :

  1. Peter Reitzes. Stuttering Myths, Beliefs and Straight Talk for Teens. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs web The Stuttering Foundation. https://www.stutteringhelp.org/stuttering-myths-beliefs-and-straight-talk-teens
  2. Tim Indonesian Stuttering Community. (2020). Indonesian Stuttering Community: Pioneer Komunitas Gagap di Indonesia. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs web Medium Indonesian Stuttering Community. https://medium.com/@stutterindo/indonesia-stuttering-community-pioneer-komunitas-gagap-di-indonesia-baa54e8e9013
  3. Tim Mayo Clinic. Stuttering. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs web Mayo Clinic https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/symptoms-causes/syc-20353572
  4. Tim National Stuttering Assosiation. Facts About Stuttering. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs web National Stuttering Assosiation. https://westutter.org/facts-about-stuttering/
  5. Tim National Stuttering Assosiation. Myths About Stuttering. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs web National Stuttering Assosiation. https://westutter.org/myths-about-stuttering/
  6. Tim Newman. (2017). Stuttering: All you need to know. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari situs web MedicalNewsToday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/10608#talking_to_stutterer

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.