• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
21 Jul

Hoarding Disorder dan Kaitannya dengan OCD

by Ayudiva Rizky Anugraheni

Halo, Socconians!

Pernahkah kamu mendengar tentang obsessive-compulsive disorder? Obsessive-compulsive disorder (OCD) merupakan suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan munculnya pikiran (obsesi) dan perilaku (kompulsi) yang berulang dan sulit dikendalikan sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa orang dengan OCD sadar bahwa pemikiran atau perilaku yang dilakukan tidak masuk akal dan mereka melakukannya bukan karena hal tersebut menyenangkan, melainkan karena tidak mampu menghentikan dorongan untuk melakukan hal tersebut. Gangguan OCD ini dapat muncul dalam berbagai tipe, Socconians. Tipe umum yang paling sering ditemui adalah tipe checker (terobsesi untuk selalu memeriksa), tipe washer dan cleaner (sangat takut terkontaminasi kotoran dan kuman), tipe orderer (terobsesi mengatur segala sesuatu agar tertata sesuai dengan keinginan mereka), tipe obsessional (memiliki pemikiran yang tidak diinginkan, seperti menyakiti orang lain), dan tipe hoarder (terobsesi mengumpulkan barang dan cemas jika harus membuang atau kehilangan barang tersebut).

Ngomong-ngomong soal tipe hoarder, apakah berarti orang dengan gangguan hoarding disorder juga memiliki OCD? Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, kita simak penjelasan tentang hoarding disorder terlebih dahulu, yuk!

Apa itu Hoarding Disorder?

Hoarding disorder (HD) adalah gangguan kesehatan mental yang membuat individu dengan gangguan mental ini merasa kesulitan berpisah atau membuang barang-barang sehingga cenderung menimbun barang dalam jumlah yang sangat banyak, terlepas dari nilai barang tersebut. Barang yang dikumpulkan bisa berupa majalah, kertas, kardus, koran, kantong plastik, dan makanan. Barang-barang tersebut dikumpulkan dan ditumpuk hingga memenuhi ruangan sehingga dapat membatasi ruang gerak dan mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitarnya seperti keluarga maupun pasangan.

Poin utama dari HD adalah keterikatan emosional yang dirasakan oleh individu terhadap barang-barang yang disimpannya. Keterikatan emosional dengan suatu barang merupakan hal yang normal terjadi pada kebanyakan orang. Lalu, apa yang membedakannya dengan HD? Beberapa penelitian menyatakan bahwa orang dengan HD cenderung memiliki reaksi emosional yang lebih besar seperti perasaan sedih, takut, dan marah yang intens, terutama saat kehilangan barang maupun saat harus membuang barang tersebut.

Apa kaitannya OCD dengan HD?

HD dapat berdiri sendiri tanpa adanya gangguan mental lain atau dapat juga menjadi salah satu gejala yang menyertai gangguan mental lainnya seperti attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), depresi, obsessive-compulsive personality disorder (OCPD), dan obsessive-compulsive disorder  (OCD).

Hoarding dapat menjadi salah satu ciri dan tanda yang terdapat pada orang dengan OCD khususnya pada tipe hoarder. Salah satu contoh perilaku hoarding dalam konteks OCD misalnya membeli barang dengan jumlah kelipatan tiga karena merasa bahwa angka tersebut adalah “magic number”, membeli seluruh barang yang sudah disentuh dan “terkontaminasi” agar orang lain tidak terkontaminasi, dan mengumpulkan barang di dalam laci karena berpikir bahwa barang tersebut sudah terkontaminasi dan tidak boleh disentuh. Hal-hal tersebut menyebabkan munculnya tumpukan barang seperti yang terjadi pada orang dengan HD.

Di sisi lain, HD dan OCD memiliki beberapa perbedaan. Hoarding dalam konteks OCD merupakan pemikiran dan perilaku yang tidak diinginkan dan menimbulkan stress. Sementara pada HD, hal tersebut biasanya tidak mengganggu dan tidak menimbulkan stress serta tidak disertai dengan pemikiran obsesif, bahkan biasanya dikaitkan dengan perasaan senang dan puas ketika dapat mengumpulkan barang-barang tersebut.

Nah, Socconians, itulah tadi beberapa informasi seputar hoarding disorder dan kaitannya dengan OCD. Semoga bermanfaat dan bisa membuat kita lebih aware dengan isu seputar kesehatan mental, ya, Socconians!

Referensi

Penulis: Ayudiva Rizky Anugraheni

Editor-in-Chief: Kabrina Rian

Editor Medis: Keisha Alika Lie, BPsychSc

Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Glaniz Izza

Sumber Tulisan :

  1. American Psychiatric Association. (2017). “What is Hoarding Disorder?”. Diakses tanggal 11 September 2020 dari situs American Psychiatric Association.
  2. Beyond OCD. “OCD Symptoms: OCD-Related Hoarding”. Diakses tanggal 16 September 2020 dari situs BeyondOCD.org.
  3. Halodoc. (2019). “Mengenal Lebih Jauh 5 Tipe Gangguan OCD”. Diakses tanggal 21 September 2020 dari situs halodoc.
  4. Mayo Clinic. (2018). “Hoarding Disorder”. Diakses tanggal 11 September 2020 dari situs mayoclinic.org.
  5. Mathers, Brittany M., dkk. (2020). “Attachment Theory and Hoarding Disorder: **A Review and Theoretical Integration”. Behaviour Research and Therapy. 125. 103549.
  6. National Health Service. (2018). “Hoarding Disorder”. Diakses tanggal 11 September 2020 dari situs National Health Service United Kingdom.
  7. Neziroglu, Fugen. “Hoarding: **The Basics”. Diakses tanggal 11 September 2020 dari situs Anxiety and Depression Association of America.
  8. WebMD. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Diakses tanggal 21 September 2020 dari situs WebMD.
  9. Yap, Keong dan Jessica R. Grisham. (2020). “Object Attachment and Emotions in Hoarding Disorder”. Comprehensive Psychiatry. 100. 152179.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.