• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
09 Jul

Membedakan Sikap Optimisme dengan Toxic Positivity

by

Hai, Socconians!

Pada sebagian orang, pandemi menyebabkan munculnya perasaan bergejolak. Masalah demi masalah seolah terus bermunculan. Dalam menghadapi pandemi ini, kita mencoba melakukan banyak cara untuk mengatasi perasaan yang bergejolak tersebut. Salah satunya dengan selalu berusaha untuk berpikir positif pada segala situasi.

Apakah perilaku ini termasuk dalam kategori optimisme ataukah toxic positivity? Bagaimana dampak yang dapat terjadi pada orang yang mengaplikasikannya?

Perbedaan Optimisme dengan Toxic Positivity

“Kamu hanya kehilangan pekerjaanmu, tetapi paling tidak suamimu masih bekerja dan kamu masih diberi kesehatan oleh Tuhan. Tetap positif dan bersyukur!”

Apakah kamu pernah mendengar kalimat serupa dari orang di sekitarmu? Tidak ada yang salah dengan kepositifan. Nyatanya, kepositifan dapat menambah motivasi terhadap masa depan. Namun, kepositifan dapat menjadi berbahaya dan menjadi toxic ketika terlalu dipaksakan.

Toxic positivity didefinisikan sebagai sebuah asumsi, baik oleh diri sendiri atau orang lain, bahwa meskipun seseorang mengalami penderitaan emosional atau situasi sulit, mereka harus berpikir positif.

Berbeda dengan toxic positivity, optimisme didefinisikan sebagai sikap penuh harap bahwa hal-hal baik akan terjadi dan bahwa keinginan atau tujuan seseorang pada akhirnya akan tercapai.

Bahaya Toxic Positivity

Pada toxic positivity, kepositifan dan kebahagiaan didorong secara kompulsif sedangkan pengalaman otentik emosional yang dialami manusia ditolak. Memiliki emosi negatif seolah memberikan kesan bahwa kamu lemah dan terlihat sangat buruk.

Implikasi toxic positivity bisa ditemukan di penelitian Sinclair, Hart, dan Lomas (2020). Mereka menyelidiki 29 literatur mengenai relasi antara sikap positif dan penolakan dalam kasus kekerasan rumah tangga. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa tekanan untuk terus menjadi positif dapat menyebabkan kerusakan pada konteks tertentu karena dapat membuat orang enggan menghadapi realita situasi mereka. Akibatnya, kita malah jadi menghindari realita dibandingkan menerimanya.

Mengakui keberadaan emosi negatif yang kita miliki bukanlah suatu hal yang buruk, lho. Justru itu membuat kita menjadi lebih sadar akan apa yang kita rasakan, sadar terhadap realita yang terjadi, dan sadar terhadap keadaan lingkungan. Selain itu, menolak atau menekan keberadaan emosi negatif dapat mengakibatkan meningkatnya kecemasan, depresi, dan perburukan kondisi kesehatan mental seseorang.

Kita Perlu untuk Lebih Mindful.

Ketika kita lebih mindful, kita jadi lebih sadar terhadap lingkungan. Individu yang mindful hidup di "saat" ini dan terlibat dalam lingkungannya tanpa perlu pusing untuk memenangkan perhatian orang lain dan menguatkan harga diri yang rapuh.

Individu yang mindful sibuk mengidentifikasi hal-hal baru yang terjadi saat ini. Mereka juga menyambut dan merangkul emosi yang dirasakannya dengan apa adanya. Mereka sadar bahwa tidak ada emosi yang “baik” atau “buruk”. Justru dengan emosi, kita dapat mengenali masalah yang terjadi dalam diri kita.

Nah, selain sikap, ada juga perbedaan antara sikap orang optimis dan toxic positivity dalam segi manfaat. Sikap optimis bermanfaat agar kita memandang pengalaman hidup dari sisi positif tanpa mengabaikan emosi negatif, sedangkan toxic positivity membuat kita harus membuang semua perasaan buruk.

Socconians, itulah perbedaan antara orang yang optimisme dan yang toxic positivity. Semakin kita mengetahui perbedaan tersebut, lebih mudah untuk mengidentifikasi orang yang toxic atau optimis yang autentik serta bagaimana respon kita.

Referensi

Penulis: Rizky Ridho Pratomo

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Sherly Deftia A. S.Ked

Editor Tata Bahasa: Christina Intania A dan Hafiza Dina Islamy

Sumber Tulisan :

  1. American Psychiatry Association.  “Definition of Optimism”. Diakses pada 8 November 2020. dari situs https://dictionary.apa.org/optimism
  2. Ayu, Diah. “Jangan Salah, Ini Bedanya Sikap Optimis dan Toxic Positivity”. Diakses pada 18 Oktober 2020 dari situs  https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/beda-optimis-dan-toxic-positivity/#gref
  3. Carson, Shelley H; Langer, Ellen J. “MIndfulness and Self-Acceptance”. Journal of Rational-Emotive & Cognitive-Behavior Therapy. Vol. 24, No. 1, Spring 2006. DOI: 10.1007/s10942-006-0022-5
  4. Gillespie, Claire. “What Is Toxic Positivity—and Why Are Experts Saying It's Dangerous Right Now?”. Diakses pada 18 Oktober 2020 dari situs  https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus/what-is-toxic-positivity
  5. M. Scully, Simone. (2020).  “Toxic positivity is Real and it’s a big problem during the pandemic”.  Diakses pada 8 November 2020. dari situs https://www.healthline.com/health/mental-health/toxic-positivity-during-the-pandemic
  6. Mulder, Jennifer. “The Difference Between Genuine Optimism and Toxic Positivity (And Why It Matters)”. Diakses pada 18 Oktober 2020 dari situs  https://thehealthsessions.com/toxic-positivity/#:~:text=If you can feel healthier,you're not positive enough.&text=Toxic positivity strips someone away,leaves them feeling 'guilty'.
  7. Sinclair, Ellen; Hart, Rona; Lomas, Tim. “Can positivity be counterproductive when suffering domestic abuse?: A narrative review”. International Journal of Wellbeing. 2020. 10(1), 26-53. doi:10.5502/ijw.v10i1.754

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.