• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
10 Jul

Mengenal Terapi Perilaku Dialektik

by

Hai, Socconians!

Apakah Socconians sebelumnya pernah mendengar tentang terapi perilaku dialektik atau Dialectic Behavior Therapy (DBT)? Pada kesempatan ini, Social Connect akan memperkenalkan salah satu terapi yang sedang banyak diimplementasikan dalam dunia kesehatan jiwa tersebut.

DBT merupakan salah satu jenis terapi kognitif perilaku atau terapi bicara yang dikembangkan oleh Marsha M. Linehan pada akhir tahun 1980-an untuk membantu individu dengan gangguan kepribadian ambang. Terapi ini merupakan psikoterapi pertama yang terbukti efektif dalam uji terkendali untuk gangguan kepribadian ambang. Saat ini, DBT telah dikembangkan secara luas untuk menangani berbagai masalah kejiwaan, seperti depresi, cemas, gangguan makan, perilaku menyakiti diri sendiri, percobaan bunuh diri, kecanduan, dan lainnya.

Teori dan Tujuan dari Pemberian DBT?

DBT merupakan terapi berbasis keterampilan yang menekankan aspek psikososial. “Dialektik” dalam terapi perilaku memiliki dua pengertian, yaitu sifat dasar realitas, serta dialog dan hubungan yang persuasif. Terapi ini didasari oleh teori yang menyatakan adanya reaksi secara intens dan berlebihan pada beberapa orang ketika dihadapkan pada suatu situasi emosional, yang biasanya ditemukan pada masalah keluarga, pasangan, atau pun pertemanan. DBT berfokus pada masalah disregulasi emosi yang tampak dalam berbagai pola seperti ketidakmampuan seseorang dalam mengatur emosi, mengontrol dorongan (impuls), hubungan interpersonal, dan citra diri. Tujuan dari proses DBT ini adalah membantu individu untuk mengubah cara berpikir, berperilaku, perasaan, dan hubungan interpersonal yang menyebabkan masalah dalam kehidupannya.

Bentuk Terapi yang Diberikan dalam Proses DBT

Terapi dapat diberikan pada latar rawat jalan dengan empat bentuk terapi, yaitu sebagai berikut.

1. Terapi individual

Sesi terapi individu memiliki target terapi prioritas utama, yaitu individu dengan perilaku yang mengancam jiwa, baik perilaku kekerasan terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Target yang kedua adalah membantu individu yang kurang patuh dalam menjalankan pengobatan. Untuk target ketiga yaitu mengintervensi perilaku yang menurunkan kualitas hidup seseorang seperti pada gangguan psikiatrik, kecanduan zat (NAPZA), pengangguran, dan masalah relasi dengan orang lain. Target keempatnya yaitu meningkatkan keterampilan DBT pada masing-masing individu.

2. Latihan keterampilan secara berkelompok

Terapi kelompok merupakan suatu kelas yang melatih keterampilan untuk mengatasi ketidakseimbangan emosi dan perilaku menyakiti diri sendiri.

3. Konsultasi antarsesi terapi

Konsultasi yang dilakukan antar sesi DBT bermanfaat untuk memastikan individu dapat menggunakan keterampilan yang telah dipelajari pada situasi yang tepat.

4. Pertemuan konsultasi terapis

Pertemuan konsultasi terapis lebih bertujuan untuk memastikan terapis DBT selalu tahu strategi DBT yang dibutuhkan, tahu cara menggunakannya, dan tetap termotivasi.

Tempat dan Waktu untuk Mengakses DBT

DBT dapat diperoleh dari tenaga profesional, seperti psikiater atau psikolog yang telah mendapat sertifikasi DBT. Pemberian terapi akan dievaluasi berdasarkan kebutuhan masing-masing individu. Umumnya keempat terapi di atas dilakukan masing-masing sebanyak satu sesi setiap minggu dengan durasi satu sampai dua jam. Dengan empat terapi DBT ini diharapkan dapat membantu individu dalam memperbaiki lima fungsi kehidupannya yaitu:

  1. Meningkatkan motivasi individu untuk berubah.

  2. Mengembangkan kemampuan individu untuk berubah.

  3. Memperluas keuntungan yang dapat diperoleh dari perubahan perilaku tersebut.

  4. Membangun lingkungan yang dapat mendukung perubahan bagi individu.

  5. Meningkatkan motivasi dan kompetensi terapis dalam menangani populasi atau masalah yang sulit.

Halo, saya dr. Evania Beatrice, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya tahun 2013. Jika terdapat pertanyaan lebih lanjut, Socconians dapat mengirimkan email ke beatricevania@live.com.

Referensi

Penulis : dr. Evania Beatrice

Editor-in-Chief : Aniesa Rahmania Pramitha Devi, Edward Christopher Yo

Editor Medis : dr. Evania Beatrice

Editor Tata Bahasa : Indah Riadiani

Sumber Tulisan :

  1. Cameron AY. Dialectical Behavior Therapy (DBT). In: Cautin RL, Lilienfeld SO, editors. The Encyclopedia of Clinical Psychology [Internet]. Hoboken, NJ, USA: John Wiley & Sons, Inc.; 2015 [cited 2020 Dec 12]. p. 1–6.
  2. DeCou CR, Comtois KA, Landes SJ. Dialectical Behavior Therapy Is Effective for the Treatment of Suicidal Behavior: A Meta-Analysis. Behavior Therapy. 2019 Jan;50(1):60–72.
  3. Emotion regulation and psychopathology: A transdiagnostic approach to etiology and treatment. New York, NY, US: The Guilford Press; 2010. xv, 461 p. (Kring AM, Sloan DM, editors. Emotion regulation and psychopathology: A transdiagnostic approach to etiology and treatment).
  4. Grohol JM, read PDL updated: 17 M 2020 ~ 5 min. An Overview of Dialectical Behavior Therapy[Internet]. 2016 [cited 2020 Dec 12]. Available from: //psychcentral.com/lib/an-overview-of-dialectical-behavior-therapy/, //psychcentral.com/lib/an-overview-of-dialectical-behavior-therapy/
  5. Linehan M. DBT skills training manual. Second edition. New York: The Guilford Press; 2015. 504 p.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.