• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
09 Jul

Mengenali Tanda-Tanda OCD pada Anak dan Remaja

by

Hello, Socconians!

Kali ini Social Connect akan mencoba membahas topik yang mungkin sudah tidak asing lagi di telingamu, yaitu Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau di dalam bahasa Indonesia disebut Gangguan Obsesif Kompulsif. Bagi kamu yang belum tahu, OCD adalah gangguan mental yang dialami seseorang yang memiliki pikiran atau kekhawatiran yang berlebihan tentang suatu hal meskipun ada upaya untuk berhenti memikirkannya (obsesi) serta memiliki ritual atau hal-hal yang harus dilakukan untuk mengatasi pemikiran atau obsesi yang dimiliki tersebut (kompulsi).

Kedua hal tersebut mendorong individu dengan OCD untuk melakukan kegiatan tertentu secara berulang-ulang akibat dari kegelisahan atau kekhawatiran berlebihan yang terlintas di kepala mereka. Nah, mungkin di antara Socconians pernah ada yang mengalami hal ini? Mungkin pernah melihat gejalanya pada keluarga atau teman kamu? Untuk info lengkapnya mari kita simak lebih lanjut pembahasan tentang bagaimana mengenali tanda-tanda OCD pada anak dan remaja berikut ini.

Gejala OCD pada Anak dan Remaja

Setelah mengerti sedikit tentang pengertian OCD, sekarang kita akan mulai membahas tentang gejala-gejalanya. Pertama-tama, gangguan kesehatan mental yang satu ini memang kerap dialami oleh golongan anak-anak dan juga remaja. OCD pada anak-anak biasanya terdiagnosa pada usia 7 hingga 12 tahun. Hal tersebut disebabkan karena rentang usia 7 hingga 12 tahun adalah saat-saat ketika anak ingin mencoba bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, baik itu di sekolah maupun di lingkungan sekitar rumah. Nah, pada rentang usia-usia seperti ini, anak-anak secara alami merasa khawatir untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya, ketidaknyamanan dan stres yang ditimbulkan oleh OCD dapat membuat mereka merasa takut, tidak terkendali, serta merasa terasingkan.

Sementara itu, gejala OCD untuk remaja umumnya ditemukan pada remaja berusia 19 tahun atau pada masa-masa pubertas mereka, dengan remaja laki-laki biasanya muncul terlebih dahulu gejala OCD-nya dibandingkan remaja perempuan.

Nah, bagi Socconians yang mungkin punya kenalan atau kerabat dekat dengan rentang usia seperti yang telah dijelaskan di atas, berikut beberapa gejala-gejala OCD yang sering dijumpai pada anak-anak dan juga remaja:

  1. Mencuci tangan secara berulang-ulang atau terobsesi dengan kebersihan karena takut dengan tertular kuman dan penyakit mematikan.
  2. Merasa risih dan tidak betah ketika melihat barang atau benda yang tidak ditempatkan pada posisi atau urutan yang menurutnya benar.
  3. Berulang kali mengecek pintu, jendela, atau pagar rumah karena cemas dan takut akan kondisi keamanan rumah.
  4. Selalu terngiang-ngiang pemikiran negatif bahwa bakal terjadi hal buruk—seperti penyakit atau kematian—yang menimpa diri atau keluarganya.

Beberapa contoh di atas mungkin sering kita lakukan dan temui dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari, terutama seperti menjaga kebersihan diri dengan membiasakan mencuci tangan yang bagi beberapa anak mungkin sudah diajarkan sejak dini. Namun, jika kita melakukannya secara berlebihan, hal tersebut dapat menjadi suatu indikasi bahwa kita mungkin mengalami gangguan OCD.

Dampak OCD bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja

Sama halnya dengan gangguan kesehatan mental lainnya, OCD juga dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mental seorang anak dan remaja. Seseorang yang mengalami OCD akan merasa stres dan tidak nyaman dengan kehidupan mereka sehari-harinya, bahkan tidak jarang juga ditemui orang-orang yang mengatakan bahwa OCD merupakan faktor utama penyebab masalah dalam kehidupan mereka.

Untuk memberikan sedikit gambaran mengenai dampak-dampak negatif yang dapat disebabkan oleh OCD, berikut contoh-contohnya:

  1. Anak menjadi kurang percaya diri yang diakibatkan oleh munculnya perasaan bahwa diri mereka berbeda dari temannya atau orang lain di sekitarnya.
  2. Mudah merasa lelah dan tertekan yang utamanya diakibatkan oleh perilaku kompulsif dari OCD.
  3. Anak atau remaja yang memiliki OCD biasanya mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan temannya atau orang lain sehingga lebih memilih untuk menjauh karena mereka tidak ingin dianggap aneh dan berbeda.

Kesimpulan

Dilihat dari dampaknya, gangguan OCD dapat menjadi sumber penghambat aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, jika Socconians memiliki OCD atau mengenal seseorang dengan OCD saat ini, maka ketahuilah bahwa terdapat beragam metode perawatan di luar sana yang dapat kamu gunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan mental ini. Ingatlah bahwa kondisi kesehatan mental itu sangatlah penting bukan hanya untuk anak-anak atau remaja saja, melainkan untuk semua orang. Jadi jangan pernah merasa sungkan untuk mulai mencari bantuan, ya!

Referensi

Penulis : Alif Noer Utama

Editor-in-Chief : Kabrina Rian

Editor Medis : Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi

Editor Tata Bahasa : Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana

Sumber Tulisan :

  1. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. "Obsessive-Compulsive Disorder In Children And Adolescent". Diakses pada 3 September 2020 dari situs https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Obsessive-Compulsive-Disorder-In-Children-And-Adolescents-060.aspx#:~:text=Obsessive-compulsive disorder (OCD),day-to-day functioning
  2. Banu, Syahar. [The Asian Parent Indonesia]. "Mengenal Gangguan Obsesif Kompulsif atau OCD pada Anak". Diakses pada 3 September 2020 dari situs https://id.theasianparent.com/mengenal-ocd-pada-anak
  3. Obsessive-Compulsive Disorder. Diakses pada 3 September 2020 dari situs https://www.nimh.nih.gov/health/topics/obsessive-compulsive-disorder-ocd/index.shtml
  4. [Raising Children Network Australia]. "Obsessive compulsive disorder (OCD) in children and teenagers". Diakses pada 3 September 2020 dari situs https://raisingchildren.net.au/school-age/health-daily-care/mental-health/ocd
  5. Yardley, Heather. [Nationwide Children’s]. "What Are Signs of OCD in Children and Teens?". Diakses pada 3 September 2020 dari situs https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/700childrens/2013/08/what-are-signs-of-ocd-in-children-and-teens
  6. Waite, P. & Williams, T. (2009). Obsessive Compulsive Disorder: Cognitive Behaviour Therapy with Children and Young People. New York: Routledge. Diakses pada 3 September 2020 dari situs https://booksc.xyz/book/38806337/9f99b8

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.