• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
17 Jul

OCD pada Anak-anak dan Pentingnya Peran Orang Tua

by Ratih Dwi Jayanti

Hi, Socconians!

Apakah Socconians pernah mendengar istilah OCD? Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD adalah suatu gangguan kesehatan mental yang terjadi ketika seseorang memiliki pikiran yang berulang dan tidak mampu dikendalikan (obsesi), serta perilaku berulang-ulang yang dilakukan untuk mengatasi pikiran itu (kompulsif). Obsesi adalah pikiran atau dorongan yang mengganggu, biasanya memicu perasaan tertekan dan cemas pada seseorang yang mengalami OCD. Oleh karena itu, orang dengan OCD akan melakukan sesuatu untuk mengurangi pikiran atau obsesinya dengan tujuan menghilangkan kecemasan akibat obsesi tersebut, hal ini disebut dengan kompulsi.

Nah, gangguan kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja, Socconians. Bahkan pada anak-anak sekalipun. Menurut Obsessive Compulsive Foundation of Metropolitan Chicago, sekitar satu dari 100 anak memiliki OCD. Sama halnya pada orang dewasa, anak-anak dengan OCD juga merasakan pikiran yang tidak dapat dikontrol (obsesi) yang membawanya pada rasa cemas yang berlebihan. Pikiran-pikiran itu membuat anak-anak merasa tidak nyaman dan membuat mereka melakukan sesuatu untuk menghilangkan kecemasannya secara berulang-ulang. Perilaku kompulsif dalam mengatasi obsesi ini sering kali menghabiskan waktu yang cukup signifikan sehingga mengganggu rutinitas sehari-hari.

Penyebab OCD pada Anak-Anak

Lalu, apa sih penyebab OCD pada anak-anak? Apakah ada hubungannya dengan fungsi atau gangguan otak? Atau bisa jadi karena faktor genetik? Ternyata, penyebab OCD belum diketahui secara pasti. Namun, ilmuwan dan peneliti memahami bahwa OCD adalah gangguan neurobiologis yang disebabkan oleh ketidakseimbangan senyawa kimia pada bagian otak tertentu, yaitu tidak seimbangnya hormon serotonin pada otak. Faktor genetik juga bisa menjadi penyebab OCD pada anak-anak. Sekitar 20% anak dengan OCD juga memiliki anggota keluarga dengan gangguan kesehatan mental yang sama.

Tanda OCD pada Anak-Anak

Seperti halnya pada orang dewasa, tanda OCD pada anak juga berbeda-beda. Ada yang gejalanya cemas akan kotor dan sering mencuci tangan, ada juga yang cemas melihat sesuatu yang tidak rapi dan terus merapikan sesuatu. Namun, diagnosis OCD pada anak-anak cukup sulit karena anak-anak cenderung belum bisa membedakan antara obsesi dan kompulsi dengan hal yang dilakukan sehari-hari. Contohnya pada rutinitas sehari-hari yang dilakukan tapi tidak menimbulkan kecemasan berlebihan. Tanda atau gejala pada anak bisa membaik dalam beberapa waktu, tetapi kemudian dapat memburuk. Tidak ada alasan yang pasti mengenai perubahan gejala tersebut. Akan tetapi, secara umum, gejala OCD pada anak-anak mulai muncul ketika anak berusia sekitar 10 tahun.

Dampak OCD pada Anak-Anak

OCD adalah gangguan kesehatan mental yang tidak bisa dianggap remeh. Setiap gangguan kesehatan pasti memiliki dampak tertentu, begitu juga dengan OCD pada anak-anak. Ketika seorang anak memiliki OCD, area otak yang menyaring informasi cenderung kurang berfungsi dengan baik sehingga menyebabkan anak terlalu fokus pada pikiran yang sebenarnya bisa diabaikan. Anak-anak dengan OCD juga akan merasa tertekan akibat obsesi dan kompulsi yang dilakukan. Hal ini akhirnya juga menyebabkan kecemasan yang berlebihan sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka secara signifikan.

Pentingnya Peran Orang Tua pada Anak-Anak Pengidap OCD

Socconians, anak-anak cenderung belum bisa membedakan antara obsesi dan kompulsi dengan kebiasaan yang dilakukannya sehari-hari. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membantu anak-anak mengatasi masalah ini. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menangani anak-anak yang memiliki OCD:

● Orang tua diharapkan dapat membantu anak-anak untuk menjelaskan dan memberi pengertian tentang OCD

● Selalu memperhatikan kebiasaan anak

● Tidak terlibat pada kebiasaan yang dilakukan anak saat gejala OCD muncul

● Menjadi support system yang ada untuk anak

● Membantu anak menghadapi ketakutan atau kecemasannya

● Mengajak anak ke psikolog dan sebisa mungkin selalu menemani anak saat terapi

Selain itu, penanganan OCD pada anak-anak dapat dilakukan dengan jenis terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioural therapy. Terapi ini biasanya terdiri dari 12--20 sesi mingguan, tergantung pada kondisi dan tingkat gejala OCD yang muncul pada anak. Terapi ini dilakukan untuk mengajak dan melatih anak membiasakan diri, menetralkan, dan memahami apa yang sebaiknya dilakukan saat perasaan cemas berlebihan datang atau pada saat dorongan untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang itu muncul.

Socconians, sebenarnya merasa cemas dan merasa terganggu akan sesuatu merupakan hal yang wajar. Namun jika kecemasan itu sudah pada tahap berlebihan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, maka Socconians perlu berhati-hati. Apalagi jika ini terjadi pada anak-anak yang masih membutuhkan bantuan orang dewasa. Jadi, kalau Socconians melihat tanda-tanda ini pada anak-anak, Socconians bisa langsung konsultasi ke psikolog atau psikiater, ya!

Referensi

Penulis: Ratih Dwi Jayanti

Editor-in-Chief: Kabrina Rian

Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi

Editor Tata Bahasa: Finda Rhosyana

Sumber Tulisan :

  1. Child Mind Institute. Parents Guide to OCD. Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://childmind.org/guide/parents-guide-to-ocd/
  2. Daniels, N. (n.d.). 5 Tips on How to Parent a Child with OCD. Retrieved from Anxious Toddler. Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://www.anxioustoddlers.com/child-with-ocd/#.X1hlKXkzbIU
  3. International OCD Foundation. What is OCD? Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://iocdf.org/about-ocd/
  4. Krebs, G., & Isobel, H. (2015 ). Obsessive-Compulsive Disorder in Children and Adolescents. Archives on Disease in Childhood. Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4413836/
  5. Mayo Clinic. Obsessive-Compulsive Disorder. Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obsessive-compulsive-disorder/symptoms-causes/syc-20354432
  6. Obsessive Compulsive Foundation of Metropolitan Chicago. 2006. How to Help Your Child: A Parent’s Guide to OCD. Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://adaa.org/sites/default/files/How-to-Help-Your-Child-A-Parents-Guide-to-OCD.pd
  7. Spiro, L. (n.d.). Kids and OCD: The Parents’ Role in Treatment. Retrieved from Child Mind Institute. Diakses pada 17 September 2020 dari situs https://childmind.org/article/kids-and-ocd-the-parents-role-in-treatment/

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.