• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
20 Jul

Pahami Self-Purpose: Upaya Hadapi Quarter Life Crisis

by Servasia Petra Rosari Yusandani

“Apa ya, yang akan aku lakukan setelah lulus kuliah nanti?”

“Apakah ini benar-benar pekerjaan yang aku sukai?”

Hai, Socconians!

Ada yang sedang mengalami kebingungan seperti dua contoh kalimat di atas? Atau adakah yang sedang menerka-nerka bahwa dirinya saat ini sedang mengalami quarter life crisis? Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan quarter life crisis itu? Yuk, kita pahami lebih lanjut!

Quarter Life Crisis: Transisi Menjadi Dewasa

Quarter life crisis (QLC) merupakan salah satu krisis yang kerap dialami oleh individu berusia 20-an tahun atau termasuk dalam kelompok emerging adulthood atau dewasa awal. Menurut Arnett, emerging adulthood merupakan kelompok usia 18-25 tahun yang saat ini sedang mengalami transisi dari remaja menjadi dewasa. Pada tahapan ini, seseorang mulai meninggalkan ‘kebebasannya’ sebagai remaja, tetapi belum sepenuhnya memegang tanggung jawab dan kemandirian sebagai orang dewasa. Emerging adulthood merupakan tahapan yang ambigu ketika seseorang dihadapkan dengan adanya ketidakpastian dan perubahan peran yang signifikan dalam hidup mereka.

Nah, Socconians, secara lebih spesifik terdapat empat tahapan dalam QLC, yaitu:

  1. Tahapan pertama, ditandai dengan adanya keinginan untuk terlibat dan memiliki peran penting dalam kelompok sosial, misalnya berkaitan dengan pendidikan, karier, dan relasi interpersonal.
  2. Tahapan kedua, yaitu realisasi bahwa proses menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah, biasanya disebabkan oleh kegagalan-kegagalan yang dialami dalam proses mencapai tujuan. Tak jarang, seseorang mengalami kekhawatiran dan ketakutan mengenai masa depan mereka.
  3. Tahapan ketiga, yaitu individu mengambil jeda sesaat dari aktivitas dan rutinitas, merefleksikan hal-hal yang terjadi pada diri, dan berusaha mencari alternatif atau solusi lain untuk mencapai tujuan yang direncanakan.
  4. Tahapan keempat, dimulai ketika seseorang berhasil membuat strategi untuk mencapai tujuan yang direncanakan. Tahapan ini juga ditandai dengan adanya rencana realistis dan lebih terukur, yang mungkin belum dipertimbangkan pada tahapan awal QLC.

Pentingnya Self-Purpose dalam Quarter Life Crisis

Dari penjabaran sebelumnya, kita dapat menyadari bahwa QLC memang salah satu fase krusial yang harus dilalui setiap orang ya, Socconians. Dalam membuat keputusan, memiliki tujuan dan menyadari self-purpose merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam emerging adulthood. Sakharova dalam penelitiannya menyatakan bahwa self-purpose merupakan nilai-nilai yang digunakan untuk menentukan pilihan, memberikan pandangan pada berbagai aspek kehidupan, serta memberikan arahan bagaimana seseorang harus bertindak. Self-purpose biasanya mulai terbentuk ketika remaja dan akan semakin terbentuk ketika memasuki usia dewasa, terutama berkaitan dengan pendidikan, karier, dan keluarga. Oleh sebab itu, memiliki self-purpose tentunya akan membantu pengembangan diri kita dalam melalui tahapan QLC.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika belum mengetahui dengan pasti apa yang menjadi self-purpose kita? Jangan khawatir, simak beberapa tips berikut ini!

1. Menyadari Hal-hal yang Bernilai dalam Hidup

Luangkan waktu untuk berefleksi dan melakukan berbagai kegiatan sosial untuk menyadari apa yang memberikan arti dalam hidup kita. Dengan menyadari hal-hal yang berarti dalam hidup, seseorang akan semakin memahami self-purpose dan menemukan cara untuk mengisi hidupnya dengan berbagai kegiatan yang dianggap bernilai, termasuk dalam hal mencari pekerjaan.

2. Apa yang Membuatmu Bahagia?

Pahami kemampuan, ketertarikan, dan bakat yang kita miliki selama ini. Dengan melakukan hal-hal yang membuat bahagia, seseorang dapat menciptakan perasaan positif dan mengubah passion yang dimilikinya menjadi self-purpose yang bermanfaat dan bernilai.

3. Memahami Kekuatan dan Kelemahan Dirimu

Terlibat dalam berbagai aktivitas yang belum pernah dilakukan dapat membantu menyadari apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan diri kita. Selain itu, kita juga dapat meminta pendapat dari orang lain untuk mengetahui hal ini ya, Socconians. Dengan berfokus pada area yang menjadi kekuatan, kita dapat semakin mudah dalam menentukan apa yang ingin kita lakukan dalam hidup. Selain itu, kita juga dapat terlibat dalam berbagai aktivitas pengembangan diri untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang kita miliki saat ini.

Nah, Socconians, semoga artikel di atas dapat membantu pegembangan diri dan menyadari apa yang menjadi self-purpose kita, ya! Tentunya bukan hal yang instan dan membutuhkan proses dalam memahaminya. Dengan mengetahui apa yang menjadi self-purpose, kita akan semakin siap dalam menghadapi QLC.

Referensi

Penulis: Servasia Petra Rosari Yusandani

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi

Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Hafiza Dina Islamy

Sumber Tulisan:

  1. Arnett, Jeffrey. 2000. Emerging Adulthood. American Psychologist. 5(469-480). Diakses dari http://jeffreyarnett.com/ARNETT_Emerging_Adulthood_theory.pdf pada 9 November 2020.
  2. Morin, Amy. 2020. 7 Tips for Finding Your Purpose in Life. Diakses dari https://www.verywellmind.com/tips-for-finding-your-purpose-in-life-4164689 pada 8 November 2020.
  3. Robinson. C. Oliver. A Longitudinal Mixed-Methods Case Study of Quarter-Life Crisis During the Post University Transition: Locked-Out and Locked-In Forms in Combination. 7(1-13) Diakses dari https://sci-hub.do/10.1177/2167696818764144 pada 14 November 2020.
  4. Sakharova, Tatiana. 2014. Life-Sense Orientations in Adolescence and Early Adulthood. Social and Behavioral Science. 146(302-307). Diakses dari https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042814047909 pada 9 November 2020.
  5. Scott, Elizabeth. 2018. Personal Development Goals for Your 20s and Beyond. Diakses dari https://www.verywellmind.com/personal-development-goals-for-your-20s-and-beyond-4173239 pada 8 November 2020.
  6. Swinson, Erin. 2020. The Quarter-Life Crisis: Is That Really a Thing? Diakses dari https://claritychi.com/quarter-life-crisis-really-thing/ pada 9 November 2020.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.