• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
10 Jul

Pemicu Antisosial pada Masa Anak-Anak

by

Halo, Socconians!

Melihat perkembangan anak tidak hanya melihat pada pertumbuhan secara fisik, tetapi juga secara mental. Salah satu gangguan mental yang bisa saja terjadi pada anak kecil yaitu perilaku antisosial atau disebut Antisocial Personality Disorder (ASPD). Perilaku antisosial pada anak usia dini sering dijumpai pada lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Menurut prediksi, terdapat 4 hingga 6 juta anak yang mengalami APD di dunia. Anak biasanya dapat teridentifikasi memiliki perilaku antisosial pada usia 3 atau 4 tahun. Perilaku tersebut akan semakin memburuk dan terus berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani dengan baik sebelum usia 9 tahun.

Socconians dan para orang tua dapat mengenali dengan mudah perilaku anak yang mempunyai gangguan tersebut. Supratiknya dalam bukunya (2012) mengemukakan bahwa anak dengan perilaku antisosial memiliki tanda-tanda, seperti sulit diatur, gemar berkelahi, sering berbohong, menunjukkan sikap bermusuhan, tidak patuh, gemar merusak atau vandalisme, mencuri, dan mengamuk. Fenomena yang mengkhawatirkan tersebut dapat menjadi permasalahan serius di kemudian hari dan akan mengakibatkan perilaku menyimpang pada anak yang mengalaminya. Berdasarkan penelitian Chen et al. (2011), ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya perilaku antisosial pada anak, yakni faktor pribadi, faktor keluarga, dan faktor sekolah.

Socconians, kenali yuk ketiga faktor risiko munculnya perilaku antisosial pada anak:

Faktor Keluarga

Faktor keluarga dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua serta dukungan dari orang tua kepada anak. Adanya kasus broken home di dalam rumah, kurangnya pengawasan dari orang tua, minimnya hubungan orang tua dengan anak, dan rendahnya perhatian pada anak. Selain itu, rendahnya jumlah penghasilan keluarga, kekerasan pada anak, penerapan kedisiplinan yang tidak konsisten dan keras turut memengaruhi terjadinya perilaku antisosial pada anak.

Faktor Pribadi

Lingkungan yang negatif dan kecerdasan intelektual yang rendah akan berhubungan dengan rendahnya kemampuan anak dalam mengontrol emosi diri. Pada akhirnya, unsur-unsur tersebut dapat menjadi faktor risiko munculnya perilaku antisosial pada anak di kemudian hari.

Faktor Sekolah

Anak kecil cenderung menirukan perilaku teman sebayanya agar dapat diterima oleh kelompoknya. Oleh karena itu, lingkungan sekolah yang baik dan positif berhubungan dengan rendahnya angka kejadian kenakalan pada anak dan munculnya perilaku antisosial di kedepannya.

Socconians, jika faktor-faktor di atas tidak ditangani dengan baik, hal tersebut dapat berlanjut hingga anak menjadi dewasa dan berkembang menjadi perilaku antisosial. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penanganan secara khusus terhadap anak yang memiliki gejala atau faktor risiko mengalami perilaku antisosial. Hal itu bisa dengan pembelajaran kooperatif, dapat mengembangkan sikap tolong menolong, empati, adanya kasih sayang, dan sikap menerima terhadap teman sebayanya. Cara lain yang dapat dilakukan melalui pemberian apresiasi dan hukuman secara konsisten serta seimbang. Selain itu, para orang tua dapat mengikuti program parenting dan program pelatihan manajemen orang tua.

Referensi

Penulis: Audrey Aulivia

Editor-in-Chief: Kabrina Rian

Editor Medis: Sherly Deftia A, S.Ked

Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti dan Finda Rhosyana

  1. Carr, A. (2011). Abnormal Psychology Focus. East Sussex: Psychology Press
  2. Chen, C Symond, F.J & Reynolds A. J. 2011. Prospective Analyses of Childhood Factors and Antisocial Behaviour for Students with High-Incidence. Journal of Behaviour Disorder, 37, p. 5-18.
  3. Rosen, J. A., Glennie, E. J., Dalton, B. W., Lennon, J. M., & Bozick, R. N. (2010). Noncognitive Skills in the Classroom: New Perspectives on Educational Research. United States of America: Research Triangle Institute.
  4. Scaccia, A. How to Identify and Treat Antisocial Behavior in Children, Healthline. Retrieved on 2020, June 16 https://www.healthline.com/health/parenting/antisocial-behavior-in-children
  5. Supratiknya. (2012). Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.