• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
10 Jul

Penderita OCD di Tengah Pandemi COVID-19

by

Halo, Socconians!

Seperti yang kita ketahui, pandemi COVID-19 telah memberi dampak perubahan pada berbagai aspek kehidupan, entah itu di bidang lingkungan, pendidikan, hingga ekonomi. Tidak hanya berdampak pada tiga hal tersebut, kesehatan mental individu juga bisa terdampak dan menjadi tantangan bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi kondisi kesehatan mental tertentu.

Socconians, kebiasaan-kebiasaan baru dalam masa pandemi saat ini juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalian pasti sudah menyiapkan seperangkat alat perang untuk bisa menjaga diri dari virus penyebab COVID-19 ini ketika bepergian ke luar. Mulai dari menggunakan masker, membawa hand sanitizer, hingga membawa tisu basah anti-bakteri. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin mengingatkan kita pada perilaku orang yang menderita Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

Tekanan yang dialami oleh penderita OCD di tengah kondisi pandemi ini tentu akan berdampak langsung pada munculnya perilaku kompulsif mereka, khususnya untuk mereka yang mengalami obsesi terkait dengan kebersihan. Besar kemungkinan penderita OCD akan mengalami peningkatan kecemasan yang berujung pada munculnya perilaku kompulsif seperti mengecek kondisi fisik tubuhnya secara berlebihan, memastikan dirinya tidak terpapar terlalu banyak udara dari luar, dan lain-lain.

Dampak COVID-19 terhadap Penderita OCD

Penderita OCD memiliki rasa ketakutan dan kekhawatiran yang tinggi disertai dengan usaha yang berulang-ulang untuk mengurangi kecemasan yang disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya karena takut terkena kontaminasi dari luar dirinya. Pada masa pandemi COVID-19, ketakutan ini semakin meningkat saat berbagai badan kesehatan menyatakan sangat mudahnya virus ini menular. Selain itu, orang dengan gejala OCD pun merasa kesulitan untuk membedakan apakah perilaku mereka—seperti sering mencuci tangan dan membersihkan sesuatu—merupakan reaksi normal terhadap situasi ini atau berasal dari obsesi mereka. Penderita OCD juga dapat mengalami bertambahnya tekanan dalam situasi pandemi yang kemudian dapat menimbulkan rasa depresi atau kecemasan yang tinggi. Tingginya tekanan emosional ini dapat berpengaruh pada munculnya pengalaman seperti delusi pada penderita OCD.

Meningkatnya jumlah pasien di masa pandemi ini juga dapat menjadi penghalang bagi penderita OCD untuk melakukan terapi. Pengobatan untuk masalah kesehatan mental bisa saja dinomorduakan pada saat ini, mengingat para tenaga medis umumnya lebih berfokus kepada pasien yang mengidap COVID-19. Namun, tentunya penderita OCD tidak serta-merta terhindar dari tekanan berulang yang mengganggu dan dapat meningkatkan perasaan cemas berkepanjangan bagi penderita jika tidak ditangani dengan baik.

Menangani OCD di Tengah Kondisi Pandemi COVID-19

Untuk mengurangi gejala OCD sendiri terdapat beberapa metode pengobatan tertentu yang membutuhkan bantuan profesional. Namun, untuk keadaan di mana penderita kesulitan untuk mengakses terapi—seperti dalam situasi pandemi—beberapa cara berikut bisa membantu meringankan gejala OCD berkepanjangan.

  1. Mulai merawat diri secara teratur. Lakukan aktivitas yang berfokus pada pengembangan diri seperti olahraga harian, jadwal tidur yang teratur, pola makan yang sehat, dan meditasi. Jangan lupa untuk memberi porsi yang tepat pada masing-masing aktivitas agar tidak dilakukan secara berlebihan.

  2. Ikuti rekomendasi dokter, tetapi jangan dilakukan secara berlebihan. Agar kecemasan yang dialami penderita OCD tidak bertambah, mulai berlatih untuk mengontrol perasaan dan lebih mengikuti anjuran atau rekomendasi yang diberikan dokter. Penting bagi penderita OCD untuk bisa membedakan apakah perilaku mereka berasal dari kecemasan mereka atau kesadaran untuk mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

  3. Mendapatkan terapi melalui layanan daring. Tingkat kecemasan penderita OCD dapat meningkat ketika melakukan kontak dengan orang lain, sehingga terapi dengan pihak dokter melalui media komunikasi daring dapat menjadi alternatif.

  4. Kendalikan konsumsi berita dan media. Tentukan jadwal untuk kapan dan seberapa sering membaca berita. Walaupun awalnya bertujuan untuk mengurangi kecemasan, terlalu sering membaca berita bisa berdampak pada meningkatnya rasa cemas. Pilih juga sumber informasi yang kredibel dan hindari mencari informasi dari media sosial.

Semoga artikel Social Connect ini bisa memberi pengetahuan bagi Socconians yang mengalami gejala OCD maupun menjadi sarana untuk membantu orang lain yang tengah menderita OCD, ya! Membantu diri sendiri dan orang lain untuk bisa sama-sama bertahan di tengah kondisi saat ini adalah hal yang menyenangkan, bukan?

Referensi

Penulis: Melisa Nirmala Dewi

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.

Editor Tata Bahasa: Christina Intania A.

  1. Aisha Usmani & Jennifer Ragan [One Mind PsyberGuide]. ( 2020]). “Living with Obsessive Compulsive Disorder during COVID-19”. Diakses pada tanggal 18 September 2020 dari situs web https://onemindpsyberguide.org/blog/living-with-obsessive-compulsive-disorder-ocd-during-covid-19/
  2. Catherine Bortolon & Stéphane Raffard. “Self-reported psychotic-like experiences in individuals with obsessive-compulsive disorder versus schizophrenia patients: Characteristics and moderation role of trait anxiety”. (2015). Comprehensive Psychiatry, 57. doi:10.1016/j.comppsych.2014.10.011
  3. Charlie. “Tips for coping with OCD durung coronavirus pandemic”. Diakses pada tanggal 18 September 2020 dari situs web https://youngminds.org.uk/blog/tips-for-coping-with-ocd-during-the-coronavirus-pandemic/
  4. Debanjan Banerdee [NCBI]. (2020). “The other side of COVID-19: Impact on obsessive compulsive disorder (OCD) and hoarding”. Diakses pada tanggal 15 September 2020 dari situs web https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7151248/
  5. Elizabeth Lawrence [Scientific American]. ( 2020). “COVID-19 Worsens Obsessive Compulsive Disorder - But Therapy Offers Coping Skill”. Diakses pada tanggal 15 September 2020 dari situs web https://www.scientificamerican.com/article/covid-19-worsens-obsessive-compulsive-disorder-but-therapy-offers-coping-skills1/
  6. Jessica Caporuscio [Medical News Today]. (2020). “How to cope with OCD during the COVID-19 pandemic”. Diakses pada tanggal 15 September 2020 dari situs web https://www.medicalnewstoday.com/articles/ocd-and-covid-19.
  7. Melinda Smith [HelpGuide]. (2019). “Obsessive-Compulsive Disorder”. Diakses pada tanggal 15 September 2020 dari situs web https://www.helpguide.org/articles/anxiety/obssessive-compulsive-disorder-ocd.htm#:~:text=Common compulsive behaviors in OCD,lot of time washing or
  8. Rogers Behavioral Health [Rogers Behavioral Health]. (2020). “Those with contamination OCD face extra challenge during pandemic” Diakses pada tanggal 15 September 2020 dari situs web https://rogersbh.org/about-us/newsroom/blog/those-contamination-ocd-face-extra-challenges-during-pandemic)

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.