• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
10 Jul

Pengaruh Media Sosial terhadap Gangguan Dismorfik Tubuh pada Remaja

by

Kita mungkin memiliki kekurangan pada penampilan wajah dan tubuh yang tidak disukai. Meskipun demikian, hal tersebut tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, individu dengan gangguan dismorfik tubuh akan terus memikirkan ketidaksempurnaan dari penampilannya, bahkan hingga berjam-jam setiap hari. Mereka tidak dapat mengendalikan pikiran negatif yang muncul terkait penampilan fisik mereka sendiri.

Hi, Socconians!

Apakah kamu pernah mendengar istilah gangguan dismorfik tubuh? Gangguan ini menyebabkan kondisi abnormal yang berkaitan dengan body image serta self-esteem pada individu. Meskipun menunjukkan kondisi serupa, gangguan dismorfik tubuh berbeda dari eating disorder, ya, Socconians. Pada artikel kali ini, Tim Social Connect akan membahas pengaruh media sosial terhadap gangguan dismorfik tubuh pada remaja, nih, Socconians. Nah, mengapa media sosial berpengaruh dalam gangguan dismorfik tubuh, ya? Sebagai pembuka, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai apa itu gangguan dismorfik tubuh.

Gangguan dismorfik tubuh merupakan gangguan yang ditandai dengan perilaku obsesif terhadap kekurangan pada body image hingga dapat menyebabkan gangguan psikososial yang signifikan. Gangguan ini memiliki gejala yang mirip dengan obsessive-compulsive disorder, dengan adanya perilaku repetitif, tetapi hanya berfokus pada penampilan tubuh. Salah satu contoh perilaku yang dapat dilihat adalah bercermin memperhatikan kekurangan tubuh hingga berjam-jam lamanya. Individu dengan gangguan dismorfik tubuh dapat terobsesi pada ketidakpuasan terhadap penampilan wajah, berat badan, atau bentuk tubuhnya.

Penelitian menunjukkan bahwa gangguan dismorfik tubuh memengaruhi 1,7% sampai 2,4% populasi atau sama dengan 1 dari 50 individu di dunia. Gangguan tersebut memengaruhi laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menurut American Psychiatric Association, gangguan dismorfik tubuh paling sering berkembang di masa remaja, mulai usia 12–13 tahun. Berdasarkan hal tersebut, masa remaja merupakan periode yang sangat penting untuk mendeteksi penyebab dan gejala dari gangguan dismorfik tubuh.

Nah, apa sih pengaruh media sosial terhadap gangguan dismorfik tubuh pada remaja? Penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki hubungan asosiasi dengan kemunculan gejala body dissatisfaction dan eating disorder pada wanita muda dan remaja. Pengaruh media sosial menjadi sangat relevan terhadap remaja yang sedang berkembang dan mencari identitas diri. Media sosial menjadi platform penyedia informasi yang tidak sehat terkait pandangan terhadap daya tarik dan berat badan. Hal tersebut dapat memunculkan tiga gejala dasar gangguan dismorfik tubuh pada individu, yaitu idealisasi body image yang ramping, ketakutan irasional terhadap lemak pada tubuh, serta keyakinan bahwa body image dan bentuk tubuh adalah penentu identitas seseorang.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bersifat visual, seperti Instagram dan Snapchat, lebih dari dua jam per hari dan dilakukan secara berulang dapat menyebabkan terjadinya internalisasi gejala gangguan dismorfik tubuh pada individu. Meskipun dapat menjadi sumber motivasi untuk hidup sehat, foto-foto di media sosial juga dapat menjadi berbahaya bagi remaja yang rentan atau sudah mengalami gangguan dismorfik tubuh.

Setelah membaca pemaparan di atas, semoga Socconians jadi lebih memahami, ya, apa pengaruh media sosial terhadap gangguan dismorfik tubuh pada remaja. Jika kamu merasa gelisah yang berlebihan, selalu membanding-bandingkan penampilan dengan orang lain, dan selalu merasa tidak percaya diri ketika membuka platform sosial media kamu perlu mengurangi intensitas aktivitasmu di sosial media. Cobalah menjalin hubungan yang lebih baik di dunia nyata, bukan dunia maya. Kamu bisa membangun kembali perasaan berharga, rasa bahagia, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Namun apabila Socconians merasa butuh bantuan terkait gejala yang dirasakan, baik secara fisik maupun psikis, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada tenaga profesional seperti dokter dan psikolog, ya. Selain itu, jangan lupa menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang-orang terdekat yang ada di sekitar kita, ya, Socconians!

Referensi

Penulis : Tsana Afrani

Editor-in-Chief : Fikrianti Surachman, Finda Rhosyana

Editor Medis : Rifsiana Putri S. S,Psi

Sumber Tulisan :

  1. Aziz, Jwana. (2017). “Social Media and Body Issues in Young Adults: An Empirical Study on the Influence of Instagram Use on Body Image and Fatphobia in Catalan University Students*”*. E-Repository UPF. Hlm. 1-53.
  2. Bjornsson, A.S., Didie, E.R., dan Phillips, K.A. (2010). “Body Dysmorphic Disorder”. Dialogues in Clinical Neuroscience. Volume 12(2). Hlm. 221-232.
  3. Mussad, Basil. (2018). “Social Media: A Literature Review of its Impact on Adolescents with Mental Health Disorders”. Journal of the National Student Association of Medical Research. Volume **1(2). **Hlm. 36–44.
  4. Schneider, Sophie C., Turner, Chyntia M., Mond, Jonathan, dan Hudson, Jennifer L. (2016). “Prevalence and Correlates of Body Dysmorphic Disorder in a Community Sample of Adolescents”. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry. Volume **51(6). Hlm. 595–603.
  5. Tim Penulis Anxiety and Depression Association of America. (2018). “Body Dysmorphic Disorder (BDD)”. Diakses pada tanggal 15 Agustus 2019 dari website Anxiety and Depression Association of America.
  6. Tim Penulis Psychology Today. (2017). “Body Dysmorphic Disorder”. Diakses pada tanggal 15 Agustus 2019 dari website Psychology Today.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.