• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
05 Jul

Peran Orangtua dalam Perilaku Bullying pada Remaja

by

Halo, Socconians!

Belakangan ini kita sering dibuat prihatin atas berita kasus bullying atau perundungan yang bermunculan di media massa. Pelakunya kini bisa siapa saja, tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja yang masih berseragam sekolah. Dari tahun 2011 sampai 2019, KPAI mencatat sebanyak 2.473 kasus perundungan pada anak yang terjadi di lingkungan pendidikan baik secara langsung maupun melalui media sosial. Kasus perundungan yang mana pelaku dan korban sama-sama masih berusia belasan tahun ini mengakibatkan cedera fisik hingga mental, seperti depresi.

Remaja adalah individu dengan rentang usia 11 atau 12 tahun sampai masa remaja akhir atau awal usia 20-an. Meski sudah mulai beranjak dewasa, para remaja tetap membutuhkan bimbingan orang tua. Pola asuh orang tua di rumah ternyata berhubungan dengan perilaku perundungan pada remaja lho, Socconians. Remaja yang memiliki persepsi negatif tentang lingkungan keluarga secara implisit mengakui bahwa mereka kurang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk menghadapi masalah sosial yang umum, salah satunya yaitu perundungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor protektif dari perilaku perundungan adalah pola asuh indulgent, sedangkan salah satu faktor risiko dari perilaku perundungan adalah pola asuh otoriter.

Dengan menerapkan pola asuh indulgent, orang tua menerima dan melibatkan remaja dalam proses pengambilan keputusan dalam keluarga, serta memiliki pola komunikasi yang baik dengan sang anak. Sebaliknya, pola asuh otoriter menerapkan sikap disiplin serta aturan yang ketat pada remaja dan cenderung menggunakan kekerasan atau ancaman baik secara fisik maupun verbal sebagai hukuman. Menjadi korban kekerasan dari pola asuh otoriter orang tua dapat menyebabkan remaja berisiko melakukan dan/atau menjadi korban bullying. Sebelum mengambil tindakan atas perilaku bullying yang dilakukan remaja, ada baiknya orang tua bersama-sama melakukan refleksi terkait pola asuh dan pengawasan yang diterapkan pada sang anak.

Orang tua dapat berperan dalam pencegahan perilaku bullying pada remaja dengan cara:

  1. Mengawasi perilaku anak selama di rumah agar dapat mengenali perilaku agresif yang memungkinkan anak menjadi pelaku bullying di kemudian hari;
  2. Menunjukkan kehangatan dan kedekatan dengan anak;
  3. Mempelajari dan dapat berbicara secara terbuka dengan remaja mengenai perilaku bullying;
  4. Memberi contoh dan teladan tentang cara memperlakukan orang lain dengan baik dan sopan;
  5. Mengembangkan aturan tentang bagaimana remaja seharusnya memperlakukan orang lain;
  6. Mendorong remaja berani berbicara saat mengalami atau melihat perilaku bullying yang dilakukan temannya atau orang lain;
  7. Mendorong remaja melakukan apa yang mereka sukai;
  8. Mempelajari praktik pencegahan perilaku bullying melalui komunitas atau sekolah; dan
  9. Memahami perbedaan bullying dan kekerasan serta langkah apa yang harus diambil jika remaja menjadi korban atau dicurigai terlibat dalam perilaku perundungan.

Sebagai harapan masa depan keluarga dan bangsa, tentunya sangat penting untuk menaruh perhatian lebih terhadap kasus perundungan yang menimpa anak dan remaja. Kita bisa memulainya dari hal terkecil, dari rumah, dengan menyadari pentingnya peran orang tua dan menerapkan pola asuh yang penuh kehangatan dan kasih sayang.

Referensi

Penulis : Sherin Flaurensia

Editor-in-Chief : Sherin Flaurensia

Editor Medis : Lisyanti, S.Psi.

Sumber Tulisan :

  1. Gómez-Ortiz, O., Apolinario, C., Romera, E. M., & Ortega-Ruiz, R. (2019). The role of family in bullying and cyberbullying involvement: Examining a new typology of parental education management based on adolescents’ view of their parents. Social Sciences, 8(1). https://doi.org/10.3390/socsci8010025. Diakses dari laman mdpi pada 14 Juni 2020.
  2. Martinez, I., Murgui, S., Garcia, O. F., & Garcia, F. (2019). Parenting in the Digital Era: Protective and Risk Parenting Styles for Traditional Bullying and Cyberbullying Victimization. Computers in Human Behavior, 90, 84-92. https://doi.org/10.1016/j.chb.2018.08.036. Diakses dari laman Sciencedirect pada 14 Juni 2020
  3. Ok, Sibel and Aslan, Sevda. (2010). The school bullying and perceived parental style in adolescents. Procedia Social and Behavioral Sciences, 5, 536-540. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2010.07.138. Diakses dari laman Elsevier pada 10 Juli 2020
  4. Sejumlah Kasus Bullying Sudah Warnai Catatan Masalah Anak di Awal 2020, Begini Kata Komisioner KPAI. (2020). Diakses dari laman website KPAI pada 10 Juli 2020
  5. Parents' Role in Bullying and Intervention (n.d). Diakses dari laman website Nea pada 14 Juni 2020
  6. Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2008). Human Development (Sembilan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  7. Understanding the Roles of Parents and Caregivers in Community-Wide Bullying Prevention Efforts (n.d). Diakses dari laman Stopbullying Gov pada 14 Juni 2020

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.