• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
16 Jul

Perbedaan Perfeksionis dan OCD

by Ahla Munadia P.

Halo, Socconians!

Apakah kalian terbiasa merapikan barang berdasarkan warna atau merek, membersihkan badan berulang kali, atau sering membersihkan rumah? Mungkin kita sering mendengar atau menyebut perilaku tersebut dengan istilah perfeksionisme atau “OCD”. Namun, apakah kita tahu bahwa sifat perfeksionis dan OCD itu sebenarnya memiliki banyak perbedaan? Nah, pada artikel Social Connect kali ini, kami akan menjelaskan perbedaan perfeksionisme dan OCD.

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan kesehatan mental yang dialami seseorang dengan munculnya pikiran-pikiran yang tidak diinginkan, atau disebut juga sebagai obsesi, secara berulang hingga menimbulkan kecemasan. Untuk mengurangi kecemasan tersebut, penderita OCD melakukan sesuatu secara berulang kali, atau dalam hal ini disebut sebagai perilaku kompulsif, seperti mengecek, membersihkan, dan mengorganisir sesuatu. Penderita OCD mungkin saja memahami apa yang dilakukan itu tidak rasional, tetapi mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan hal tersebut.

Berbeda dengan OCD, perfeksionisme adalah sifat yang umumnya menuntut diri sendiri menjadi sempurna secara fisik dan akal pikiran dalam kehidupan sehari–hari. Seseorang dengan sifat perfeksionis dapat melakukan kebiasaan tersebut agar tetap menjadi orang yang positif dan melakukan segalanya dengan baik atau memerlukan adanya kepastian. Walaupun orang lain dapat menganggap perilakunya aneh, tetapi mereka mampu melakukan kebiasaan tersebut.

Berikut beberapa cara untuk membedakan perfeksionis dan pengidap OCD.

Orang yang Mengalami Gejala OCD:

  1. Mengalami pemikiran, dorongan, dan impuls yang tidak diinginkan dan tidak disengaja.

  2. Tidak mendapatkan rasa puas dari kebiasaan yang dilakukannya.

  3. Melakukan ritual dan perilaku tertentu sebagai cara untuk membebaskan diri dari pikiran atau dorongan yang mengganggu.

  4. Mempraktikkan kebiasaan yang tidak sehat, seperti mengecek, membersihkan, dan mengatur sesuatu dengan berulang.

  5. Melakukan kebiasaan yang menghambat pekerjaan sehari-hari.

  6. Melakukan kebiasaan yang tidak masuk akal dan menimbulkan stres.

  7. Keinginan untuk membersihkan pikiran yang membuat mereka melakukan perilaku kompulsif.

  8. Melihat kebiasaannya sebagai sesuatu yang mengganggu.

Orang yang Perfeksionis:

  1. Secara sengaja menginginkan untuk melakukan sesuatu dengan baik*.*

  2. Adanya perasaan berhasil dari pencapaian yang telah mereka selesaikan dengan benar dan tujuannya telah tercapai.

  3. Mempraktikkan kebiasaan baik dengan mengembangkan kekuatan karakter.

  4. Mempraktikkan kebiasaan yang sehat.

  5. Melakukan kebiasaan yang mendukung mereka untuk menyelesaikan tanggung jawab sehari-hari*.*

  6. Melakukan suatu kebiasaan karena berdampak baik dan masuk akal.

  7. Menerima pemikiran yang mendorong mereka untuk menjadi lebih sempurna.

  8. Melihat kebiasaan mereka dengan positif dan ingin tetap melakukan kebiasaan tersebut.

Dampak dari Perfeksionisme dan OCD

Socconians, OCD adalah gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-harinya. Akibatnya, gejala OCD yang dialami dapat menimbulkan masalah dalam hal pribadi, profesional, akademis, dan aspek hidup lainnya. Hal ini kemudian dapat menyebabkan rasa frustasi dan depresi bagi penderitanya. Misalnya, kebijakan akademis dengan persaingan antarsiswa di sekolah dapat menyebabkan konflik dan kekecewaan yang intens pada orang tua. Di lingkungan rumah tangga, orang tua yang kesulitan untuk memahami anak-anaknya dapat menjadi marah dan kecewa ketika mereka tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Perfeksionisme dapat dimiliki oleh berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Misalnya, anak-anak dan remaja seringkali merasa terdorong untuk menjadi orang yang berprestasi dalam tugas sekolah dan kegiatan sekolah lainnya. Hal ini dapat mengarah pada obsesi terhadap kesuksesan dan keinginan untuk berprestasi yang tidak sehat. Seseorang yang perfeksionis umumnya menilai keberhargaan diri berdasarkan pencapaiannya dan apa yang telah dilakukan untuk orang lain.

Socconians, sekarang kalian sudah tahu kan perbedaan perfeksionisme dan OCD? Namun, jangan lupa ya, untuk mengenali apakah seseorang memiliki sifat perfeksionis atau mengalami OCD, orang awam tidak disarankan untuk melakukan secara sembarangan, lho!

Sebaiknya, seseorang yang mengalami gejala seperti di atas melakukan konsultasi dengan psikiater atau psikolog untuk dapat membedakan apakah ia memiliki sifat perfeksionis atau mengalami OCD agar mendapatkan treatment yang sesuai.

Referensi

Penulis: Ahla Munadia P.

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.

Editor Tata Bahasa: Christina Intania A.

Sumber Tulisan :

  1. Hamilton. (2015). “Perfectionist vs OCD”. Diakses pada tanggal 6 September 2020 dari situs web https://www.doorwaysarizona.com/perfectionist-vs-ocd/
  2. Health. (2019). “What's The Difference Between Perfectionism and OCD?”. Diakses pada tanggal 6 September 2020 dari situs web https://health.clevelandclinic.org/whats-the-difference-between-perfectionism-and-ocd/
  3. Heitz. (2017). “Perfectionism”. Diakses pada tanggal 7 September 2020 dari situs web https://www.healthline.com/health/perfectionism.
  4. Kelly, Gans. (2019). “Obsessive Compulsive Disorder (OCD) and perfectionism”. Diakses pada tanggal 6 September 2020 dari situs web https://www.verywellmind.com/ocd-and-perfectionism-2510483
  5. Seay. “Perfectionism in OCD : When the pursuit of success turns toxic”. Diakses pada tanggal 7 September 2020 dari situs web. http://www.psychologyandbehavior.com/perfectionism-ocd-symptoms-perfectionist/

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.