• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
09 Jul

Yuk, Kenali dan Cegah Depresi pada Remaja!

by

Halo, Socconians!

Semoga semuanya dalam keadaan yang baik hari ini, ya. Nah, kali ini, kita akan belajar mengenali gejala dan cara mencegah depresi pada usia remaja karena berdasarkan data terkini, ternyata usia remaja sangat rentan mengalami gangguan depresi, lho.

Masa remaja merupakan periode kritis peralihan dari anak menjadi dewasa, dengan adanya perubahan hormonal, fisik, psikologis, dan sosial yang berlangsung secara bersamaan. Pada masa peralihan ini, mereka rentan mengalami stres hingga gangguan depresi. Jumlah remaja dengan gangguan depresi kian meningkat, dari 8,7% pada tahun 2005 menjadi 11,3% pada tahun 2014. Di Indonesia, sekitar 3,4 juta remaja mengalami gangguan mental pada tahun 2013, dimana yang paling sering ditemukan adalah gangguan depresi. Hal ini tentunya perlu kita waspadai, karena gangguan tersebut seringkali berkaitan dengan kemungkinan bunuh diri. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk, kita kenali dulu apa itu depresi pada remaja!

Sekilas Tentang Depresi

Gangguan depresi perlu dibedakan dengan gejala depresi, meskipun keduanya memiliki gambaran yang cukup serupa. Gangguan depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana perasaan yang menurun, atau kehilangan minat dalam beraktivitas minimal selama dua minggu berturut-turut, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari. Suasana hati yang menurun diekspresikan dengan munculnya rasa sedih, hampa, putus asa, dan juga mudah tersinggung. Hilangnya minat atau kesenangan terhadap aktivitas pada remaja juga perlu diwaspadai karena hal tersebut merupakan salah satu tanda utama depresi. Gejala lainnya yang mendukung adalah perubahan nafsu makan yang diikuti dengan perubahan berat badan, baik meningkat maupun menurun; kesulitan atau kelebihan tidur; kelelahan atau kehilangan energi; perasaan tidak berharga atau rasa bersalah; dan bahkan adanya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Faktor penyebab munculnya gangguan depresi pada remaja merupakan kombinasi dari berbagai faktor, misalnya adanya peristiwa traumatis; faktor fisik, seperti genetik dan gangguan senyawa kimia di otak (serotonin); dan juga faktor lingkungan. Gangguan depresi merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum dihadapi oleh remaja, dengan 1 dari 20 remaja mengalami gangguan tersebut. Ironisnya, depresi pada remaja sering kali tidak terdeteksi, sehingga tidak dapat ditangani dengan cepat oleh tenaga profesional.

Mencegah Depresi pada Remaja

Socconians, apakah kalian tahu bahwa ternyata gangguan depresi memiliki kaitan erat dengan risiko penyalahgunaan zat, kehamilan dini, prestasi pendidikan yang rendah, dan pikiran bunuh diri? Faktanya, penyebab kematian tertinggi ketiga pada remaja adalah bunuh diri, yang merupakan salah satu dampak negatif dari gangguan tersebut jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, peran orang tua, keluarga, dan guru sangat diperlukan dalam membantu mendeteksi perubahan perilaku remaja sejak dini guna mencegah dampak lebih lanjut dari gangguan depresi.

Demi mencegah timbulnya gangguan depresi pada remaja, perlu dilakukan upaya pendekatan sejak usia dini dan dimulai dari lingkungan keluarga. Upaya tersebut dapat berupa membangun hubungan keluarga yang hangat, komunikasi antaranggota keluarga yang terbuka, diskusi bersama terkait masalah ataupun tekanan yang dihadapi, mendorong remaja untuk bersosialisasi dan melakukan aktivitas fisik, memberikan dukungan yang berkelanjutan, dan tahu kapan harus mencari bantuan tenaga profesional.

Jika memang ditemukan gejala depresi yang cukup berat, yuk, jangan ragu untuk mencari pertolongan ke psikiater, ya!

Referensi

Penulis: dr. Yuri Fitri Budiman

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi dan Edward Christopher Yo

Editor Medis: dr. Yuri Fitri Budiman

Editor Tata Bahasa: Jevica Ozora dan Zimi

Sumber Tulisan:

  1. Batubara J. (2010). Adolescent Development. Sari Pediatri. 12(1):21-9
  2. Mojtabai R, Olfson M, Han B. (2016). National Trends in the Prevalence and Treatment of Depression in Adolescents and Young Adults. Pediatrics. 138(6): e20161878.
  3. Listyawati F.E, Listiyandini R.A. (2017). The Relationship between Mindfulness and Depression in Adolescents. Jurnal Psikogenesis. 5(2): 115-22
  4. WHO. (2020). Adolescent Mental Health. Diakses pada tanggal 30 November 2020 dari situs web: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
  5. Arlington, VA. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition.Washington: American Psychiatric Association.
  6. Hopkins Medicine. (2020). Adolescent Depression. Diakses pada tanggal 30 November 2020 dari situs web: https://www.hopkinsmedicine.org/psychiatry/specialty_areas/moods/adap/docs/adap-booklet_final.pdf
  7. Thapar, A., Collishaw, S., Pine, D. S., & Thapar, A. K. (2012). Depression in adolescence. The Lancet, 379(9820), 1056–1067.
  8. NHS. (2020). Clinical Depression - Causes. Diakses pada tanggal 30 November 2020 pada situs web: https://www.nhs.uk/conditions/clinical-depression/causes/
  9. Hallfors, D. D., Waller, M. W., Ford, C. A., Halpern, C. T., Brodish, P. H., & Iritani, B. (2004). Adolescent depression and suicide risk. American Journal of Preventive Medicine, 27(3), 224–231.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.