• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
21 Jan

Di Balik Keputusan Childfree: Apa dan Bagaimana Bisa?

by Elisabeth Dwi Anggraeni, S.Psi.

Hai, Socconians! Pastinya sekarang ini kalian tidak asing dengan istilah childfree, kan? Apalagi sejak viralnya beberapa public figure terkait keputusan yang diambil untuk kehidupan pernikahannya atau mungkin beberapa dari kita berpikir bahwa sudah seharusnya seseorang yang menikah itu memiliki anak. Apakah itu benar atau salah? Nah, sebelum kita ikut berkomentar mengenai fenomena tersebut, ada baiknya jika kita pahami terlebih dahulu pengertian dan proses yang terjadi di balik mereka yang mengambil keputusan tersebut.

Apa itu childfree? Istilah ini diartikan sebagai seseorang yang tidak memiliki anak dan juga tidak berkeinginan untuk memiliki anak ke depannya. Keputusan childfree ini seringkali mengalami bias gender, karena konteks memiliki anak sangat berhubungan dengan konteks melahirkan yang diperankan oleh wanita. Sebenarnya, istilah ini tidak mengikat pada salah satu gender saja, tetapi ini melibatkan semua peran dalam suatu hubungan pernikahan, yaitu suami dan istri.

Untuk dapat memahami alasan seseorang dapat memilih untuk childfree, lebih dulu kita perlu mengetahui bahwa penyebab childfree sendiri tidak lepas kaitannya dari kapasitas fisik untuk melanjutkan keturunan dan keinginan psikologis untuk memiliki anak. Dari hal tersebut, kita dapat membedakan childfree menjadi:

1. Voluntary Childfree

Sepasang suami-istri pada umumnya memiliki rencana untuk memiliki anak demi melengkapi peran penting mereka dalam keluarga, yaitu menjadi orang tua. Begitu lekatnya kontribusi ekonomi, sosial, dan budaya dalam masyarakat, sehingga membentuk stigma menjadi orang tua adalah kewajiban. Namun, sekarang orang-orang mulai makin kritis dan hati-hati dalam memutuskan sesuatu. Dengan melawan stigma tersebut, beberapa pasangan memilih keputusannya untuk childfree secara sadar dan voluntary, berarti sukarela atas alasan pribadi mereka sendiri. Hal tersebut bukan karena mereka menderita infertilitas, melainkan karena semata-mata keputusan pribadi mereka untuk tidak menjadi orang tua.

2. Involuntary Childfree

Jika sebelumnya voluntary childfree berarti keputusan tidak memiliki anak atas keinginan psikologisnya untuk tidak menjadi orang tua, maka involuntary childfree mengarah pada kapasitas fertilitas yang tidak memungkinkan memiliki anak. Pasangan ini sudah menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan fertilitas mereka. Ketika hasilnya menyatakan infertilitas, mereka memutuskan untuk tetap tidak mengadopsi anak dan memilih hidup untuk tidak menjadi orang tua. Mereka memercayai bahwa sterilitas mereka bukanlah suatu penyakit yang perlu disembuhkan, tetapi adalah suatu kebetulan yang harus diterima.

Berdasarkan sebuah penelitian terhadap 10 wanita Australia yang memilih childfree, mereka menggambarkan pilihan personal mereka ini sebagai keputusan yang baik. Ternyata, di balik keputusan mereka ini, ada berbagai isu kesehatan mental yang mendasarinya. Lantas apa saja yang mempengaruhi pandangan mereka?

  • Pengalaman traumatis Beberapa orang mengalami masa kecil yang mungkin saja kurang menyenangkan. Ketika mereka kanak-kanak, bisa jadi mereka menjadi korban kekerasan (baik fisik maupun verbal) dari anggota keluarga. Pengalaman traumatis ini membuat mereka ingin menghentikan siklus menurunkan perilaku yang salah antargenerasi karena bisa saja itu terjadi tanpa disadari, misalnya mereka resah jika akan bertindak kasar ke anaknya sama seperti cara orangtua memperlakukan mereka dahulu kala.
  • Tanggung jawab yang besar Beberapa orang merasa dirinya tidak matang secara emosional atau mungkin tidak memiliki kapasitas kemampuan untuk memiliki anak. Kapasitas kemampuan yang dimaksud dapat berupa kestabilan finansial dan keadaan lingkungan yang mendukung. Mungkin saja keterikatan waktu yang besar pada pekerjaan membuat mereka tidak yakin dapat memberikan komitmen pada kebutuhan lainnya. Memiliki anak merupakan tanggung jawab yang besar karena kita perlu memiliki komitmen waktu dan tenaga untuk merawat, mendidik, dan membesarkannya.
  • Kebebasan Beberapa orang meyakini bahwa kemampuan untuk bepergian, memiliki pilihan, dan mengekspresikan dunia juga diri sendiri tanpa kompromi sangat penting untuk cara hidup mereka. Bagi mereka, menjadi orang tua dirasa dapat memakan waktu dan beban yang bisa menghambat kebebasan. Seperti halnya dalam pandangan sosial dan budaya, bahwa menjadi orang tua yang baik harus siap dengan pengorbanan diri.

Tantangan Sosial dan Budaya Stigma yang terbentuk saat ini terkait childfree di antaranya adalah egois, tidak bermoral, melawan perintah Tuhan, serakah, dan lain-lain. Mengambil keputusan Childfree bukanlah hal yang sederhana dan mudah. Pastinya mereka sudah mempertimbangkan dengan serius, baik dampak positif bagi mereka maupun konsekuensi negatif yang harus mereka hadapi. Salah satunya ketika berhadapan dengan masyarakat yang menolak pandangan tersebut atau mungkin justru penolakan yang datang dari anggota keluarga mereka sendiri.

Setelah Social Connect menjelaskan satu persatu, Socconians sekarang jadi memahami proses yang terjadi di balik keputusan mereka ini, nih! Nah, ada baiknya kita semua menanggapi salah satu fenomena kesehatan mental ini dengan bijaksana. Jika merasa diri sendiri atau ada orang terdekat kalian yang sedang mengalami masalah ini dan membutuhkan pertolongan, sebaiknya segera konsultasikan dengan ahlinya, ya, seperti psikolog ataupun psikiater.

Referensi

Penulis : Elisabeth Dwi Anggraeni, S.Psi.

Editor Tata Bahasa : Zalsabila Firstami

Sumber Tulisan

  1. Neal, J. W., & Neal, Z. P. Prevalence and characteristics of childfree adults in Michigan (USA). PLoS ONE. 2021 Jun; 16, 1–18. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0252528
  2. Harrington, R. Childfree by Choice. Studies in Gender and Sexuality. 2019; 20(1), 22–35. https://doi.org/10.1080/15240657.2019.1559515
  3. Doyle, J., Pooley, J. A., & Breen, L. A phenomenological exploration of the childfree choice in a sample of Australian women. Journal of Health Psychology. 2013; 18(3), 397–407. https://doi.org/10.1177/1359105312444647
  4. Veevers, J. E. Marriage & Family Review Voluntary Childlessness. Marriage & Family Review. 1979; 2(2), 1–26. https://doi.org/10.1300/J002v02n02

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2025 All rights reserved.