• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
08 Feb

Melepaskan Trauma dengan Berhenti Bermental Korban

by Putri Bayu Gusti Megantari Pratiwi, S.Psi

Hai, Socconians.

Siapa di antara kalian yang pernah mengalami kejadian traumatis? Di sini kita bisa mendefinisikan kejadian traumatis sebagai situasi yang tak terduga, hal yang tidak biasa dihadapi orang pada umumnya, dan menyebabkan luka fisik atau emosional. DSM V mendefinisikan trauma sebagai respons dari pengalaman yang mengancam nyawa seseorang. Beberapa contoh kejadian traumatis adalah bencana alam, kecelakaan, penyakit, kekerasan, hingga perang. Kejadian-kejadian tersebut bisa mengakibatkan seseorang mengalami trauma. Ibarat terjatuh dari sepeda dan terluka, pengalaman traumatis mengakibatkan luka sendiri yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Berbeda dengan stres di kehidupan sehari-hari, trauma terasa lebih berat dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkan diri. Meskipun begitu, pengalaman yang tidak terduga—walaupun tidak mengancam nyawa—juga bisa memicu respons yang sama dengan trauma. Kita bisa menyebutnya sebagai acute stress response.

Reaksi pertama yang umum dialami seseorang setelah pengalaman traumatis adalah penolakan (denial) atau terkejut (shock). Respons ini biasanya terjadi dalam waktu 4 minggu untuk acute stress response dan lebih dari 4 minggu untuk trauma. Kondisi ini kemudian berlanjut dengan munculnya ciri-ciri trauma, seperti:

  • Mengingat kembali kejadian traumatis.
  • Perubahan mood yang drastis.
  • Merasa takut jika kejadian tersebut terulang lagi.
  • Marah dan cemas.
  • Sulit tidur.
  • Psikosomatik.

Munculnya ciri-ciri di atas adalah pertanda bahwa "pertarungan" baru saja dimulai. Sembuh dari trauma membutuhkan proses yang cukup panjang dan juga waktu yang tidak sebentar. Derajat kesulitannya tentu berbeda setiap orang. Mungkin ada yang bisa melewati masa traumanya tanpa bantuan profesional, ada juga yang perlu bantuan psikolog atau psikiater. Apa pun usaha yang ditempuh, selama itu tujuannya untuk pemulihan kesehatan mental kalian, maka kalian patut mencobanya. Pada artikel ini, Social Connect akan menjelaskan salah satu upaya untuk lepas dari trauma, yaitu dengan berhenti bermental korban.


Mental Korban

Apa yang Socconians pikirkan saat membaca “mental” dan “korban”? Makna dari istilah ini tidak jauh dari arti sebenarnya. Bermental korban artinya kita menempatkan diri kita selalu sebagai korban, bahkan ketika kita sebenarnya bukan korban. Ciri-ciri orang yang bermental korban yaitu:

  • Menyalahkan orang lain atas kehidupan kita sendiri.
  • Menganggap kehidupan tidak bersikap adil terhadap dirimu.
  • Sering kesulitan saat berhadapan dengan suatu masalah.
  • Merasa tidak berdaya saat mengalami kesulitan.
  • Merasa diserang setiap kali ada orang lain yang memberikan kita saran.
  • Ada perasaan lega setiap kali mengasihani diri sendiri.
  • Sering menunjukkan sikap yang negatif dan merasa sulit berubah.
  • Biasanya banyak berinteraksi dengan orang-orang yang juga bermental korban.

Bermental korban artinya kita mengisi pikiran kita hanya dengan hal negatif. Kabar baiknya, mental korban ini merupakan hasil pembelajaran dan bisa diubah. Mental korban adalah mekanisme tidak sehat yang seseorang bentuk saat menghadapi suatu masalah. Seseorang disebut bermental korban apabila selalu menggunakan mekanisme ini setiap menghadapi kesulitan.

Mental Korban & Trauma

Dalam konteks trauma, setiap orang yang mengalami trauma pada dasarnya adalah korban. Hanya saja perlu dibedakan antara ‘menjadi korban’ dengan menjadi ‘orang yang bermental korban’. Menjadi korban dari suatu pengalaman traumatis adalah kondisi yang tidak dapat dipungkiri, tetapi ada banyak jalan untuk lepas dari trauma. Berbeda jika kalian terjebak di mental korban, kalian sama saja seperti melukai diri kalian sendiri lagi dan lagi. Maka dari itu, perlu upaya untuk mengubah status sebagai korban, menjadi korban dengan mental yang berdaya.

Untuk berhenti bermental korban, kalian bisa mempelajari pendekatan s*toicism*. Menurut filosofi ini, manusia memili kendali penuh atas dirinya sendiri dan tidak memiliki kendali terhadap orang lain. Artinya, kita tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan, rasakan, dan lakukan, tetapi kita bisa mengatur apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan.

  • Hal yang tidak bisa kita kontrol:

Keputusan atasan, gosip, performa orang lain, perasaan pasangan, kepuasan pelanggan, kecelakaan, situasi lingkungan rumah, selalu sehat, dan sebagainya.

  • Hal yang sepenuhnya bisa kita kontrol:

Usaha yang kita lakukan, menjalin kerja sama yang baik, memberi perhatian yang cukup, menjaga kualitas pelayanan (dalam bisnis), berolahraga dan tidur yang cukup, dan sebagainya.

Fokus pada apa yang bisa kita kendalikan dapat membantu mengurangi tingkat stres, sebab kita tahu bahwa kita bukan korban dari suatu kejadian, melainkan seseorang yang memegang kendali dan bisa mengatur ke arah mana kesehatan mental kalian berada. Hal ini tentu sangat membantu proses pemulihan pascakejadian traumatis. Mari kita telaah lebih detail bagaimana penggunaan dikotomi kendali ini. Perlu diingat bahwa untuk kasus trauma yang kompleks, maka proses penyembuhan perlu dibantu oleh profesional. Apa yang akan Social Connect jelaskan di sini hanya contoh bagaimana berhenti bermental korban bisa membantu untuk melepaskan trauma.

Proses sembuh dari trauma setidaknya terdiri dari tiga fase:

1. Fase Denial

Merupakan momen di mana kita masih belum percaya atas kejadian traumatis tersebut. Pada fase ini kalian mungkin mati rasa dan berpikir apa yang terjadi hanya mimpi. Kalian sedang berusaha memproses kejadian tersebut. Kalian belum punya cukup tenaga untuk menggunakan dikotomi kendali.

2. Fase Anger & Depression.

Ini merupakan fase yang sangat melelahkan, karena kalian mulai menyadari luka yang ditinggalkan oleh kejadian traumatis tersebut. Kalian mungkin mulai merasa sedih, marah, dan ingin menyalahkan orang lain. Pada fase ini, otak kalian yang bernama sistem limbic yang bertugas untuk mengelola emosi sedang sangat aktif. Hal ini bisa membuat prefrontal cortex (yang memiliki fungsi eksekutif seperti mengambil keputusan dan berpikir logis) kesulitan untuk bekerja secara optimal. Ini adalah alasan kenapa kondisi yang terlalu emosional membuat kita sulit berpikir jernih.

Fase ini sangat krusial karena ini menentukan bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan melihat kejadian traumatis tersebut sebagai bagian dari hidup kita. Berawal di fase ini, kalian bisa memutuskan apakah ingin tetap bermental korban atau ingin menjadi korban yang berdaya.

Sangat penting untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang aman, misalkan mendengar musik, menonton film, menulis, dan sebagainya. Memendam perasaan bukan pilihan yang bagus karena itu akan menyulitkan kalian ke fase selanjutnya. Justru dengan mengekspresikan emosi, kalian seperti sedang mengosongkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan dari dalam otak emosi kalian. Ketika emosi tersebut surut, maka prefrontal cortex kalian siap mengambil alih kendali.

Perhatikan inner voice atau suara di dalam otak kalian. Apakah bunyinya negatif seperti, “Sepertinya benar, aku ini tidak berguna,” atau “Aku mau mati aja, aku enggak kuat”? Kalian saat itu sedang berperan sebagai korban. Kalimat negatif tersebut sama sekali tidak membantu kalian untuk melepaskan luka psikologis yang kalian rasakan, jangan sampai justru kalian terjebak di mental korban. Ingat dikotomi kendali, bahwa kalian punya kontrol penuh terhadap pikiran kalian sendiri. Jadi setelah selesai mengekspresikan sedih dan marah, langsung ganti inner voice kalian “Sekarang aku merasa marah dan benci dengan diriku sendiri, tetapi aku yakin emosi ini akan lewat. Aku mengendalikan apa yang aku pikirkan. Maka setelah emosi ini reda, aku akan memikirkan hal-hal yang baik yang pernah terjadi.”

3. Fase Understanding & Acceptance.

Pada fase ini, kalian akan menemukan makna dari kejadian traumatis yang kalian alami. Dengan latihan seperti contoh di atas, kalian perlahan melangkah ke fase ini. Di sini kalian sudah memegang kendali atas diri kalian sendiri. Kalian bukan lagi korban dan juga jauh dari mental korban. Luka trauma tersebut akan selalu membekas, tetapi tidak lagi mengganggu langkah kalian menuju masa depan yang lebih baik.

Tidak ada orang yang ingin mengalami trauma, tetapi kejadian buruk bisa saja terjadi pada kita tanpa terduga. Bermental korban tidak akan membantu kalian, karena hal itu justru akan semakin memperburuk kondisi. Maka, selalu ingat, ya, Socconians, bahwa kalian memegang kendali penuh atas diri kalian sendiri. Berhati-hati dengan kemungkinan menerapkan mental korban dalam menghadapi kesulitan. Peran utama dalam proses penyembuhan tersebut adalah diri kalian sendiri.

Referensi

Penulis : Fera Verentina, S.Psi

Editor Tata Bahasa : Dian Damanik

Sumber Tulisan :

  1. Cafasso, Jacquelyn. 2021. “Traumatic Events” Diakses tanggal 20 September 2021 pada https://www.healthline.com/health/traumatic-events
  2. Manampiring, Henry. 2019. Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini. Kompas: Jakarta.
  3. Raypole, Crystal. 2019. “How to identify and deal with a victim mentality?” Diakses tanggal 20 September 2021 pada https://www.healthline.com/health/victim-mentality#signs
  4. Resource For Living. 2018. Emotional recovery after a crisis guidebook. Diunduh tanggal 20 September 2021 dari http://promoinfotools.com/Communications/ecard/Svcs/EmPrep/EmotionalRecoveryAfterCrisesGuidebook_RFL.pdf

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.