• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
23 Feb

Tiger Parenting: Definisi & Dampak Negatif pada Anak

by Kresentia Aretha Tjahjadi, B.A, M.M

“Mama enggak mau tahu, ya! Kalau nilai kamu enggak 100, jangan harap kamu dapat makan malam!”

“Kamu bodoh atau gimana, sih? Mama sudah bilang berkali-kali, ya, kalau kamu dilarang pacaran!”

“Papa larang kamu ketemu teman harı Minggu. Papa barusan jadwalkan kamu les piano, Matematika, dan Bahasa Inggris!”

Hai, Socconians!

Pernah enggak, sih, kalian mendengar kalimat-kalimat di atas? Mungkin, beberapa dari kalian berpikir; kok tega, ya, orang tua berbicara seperti itu kepada anak-anaknya?

Bagi Socconians yang belum familiar, kalimat-kalimat tersebut merupakan contoh hal-hal yang sering diucapkan oleh para orang tua yang menganut gaya pengasuhan tiger parenting, lho!

Apa Itu Tiger Parenting?

Dilansir dari buku Battle Hymn of the Tiger Mom karya Amy Chua, seorang profesor di Yale Law School, Amerika Serikat, tiger parenting adalah suatu metode pengasuhan yang sering ditemukan di negara-negara Asia, yaitu ketika para orang tua menggunakan cara yang ekstrem dan keras untuk mengontrol kehidupan anak-anaknya secara ketat agar berhasil di kehidupan mereka, terutama secara akademik.

Menurut American Psychological Association, berikut adalah beberapa ciri-ciri orang tua yang menganut pola asuh tiger parenting:

  • Menuntut anak untuk selalu sempurna;
  • Melarang anak untuk berpacaran atau main bersama teman-temannya;
  • Sering menebar ancaman;
  • Menerapkan banyak aturan;
  • Terlalu perfeksionis dan kompetitif;
  • Menolak untuk mendengarkan kritik dari orang lain.

Dampak Negatif Tiger Parenting pada Kesehatan Mental Anak

Pola asuh ini memicu banyak pro dan kontra di masyarakat. Beberapa pihak memberikan reaksi positif karena metode ini dinilai efektif dalam meningkatkan kedisiplinan serta kesuksesan anak di bidang akademis. Namun, di sisi lain, tiger parenting mendapatkan banyak kritik hingga kecaman dari masyarakat dan para psikolog anak karena dianggap memiliki dampak negatif pada pertumbuhan, kesejahteraan, dan kesehatan mental sang anak.

Lalu, apa saja dampak psikologis yang dialami anak-anak yang diasuh dengan pola tiger parenting, ya?

  1. Tingkat kepercayaan diri yang rendah, menurut beberapa penelitian, pola asuh tradisional dan ketat yang dilakukan oleh seorang tiger parent memiliki dampak negatif pada kepercayaan diri anak. Dengan kerap memberikan hukuman dan mengatur kehidupan anak-anaknya, diungkapkan bahwa anak tersebut mengalami kesulitan dalam membuat suatu keputusan, bersosialisasi dengan teman-temannya, dan beradaptasi di lingkungan yang baru. Rasa bersalah dan malu yang dirasakan seorang anak karena gagal memenuhi tuntutan orang tuanya pun akhirnya dapat berdampak negatif pada kepercayaan diri mereka.
  2. Peningkatan gejala depresi, salah satu dampak lain dari tiger parenting terhadap kesehatan mental anak adalah peningkatan gejala depresi. Su Yeong Kim, seorang profesor di University of Texas, melakukan suatu studi mengenai 4 parenting styles (supportive, tiger, easygoing, dan harsh) yang dianut oleh masyarakat Amerika Serikat berketurunan Tionghoa dan dampak dari tiap pola asuh tersebut terhadap tumbuh kembang anak-anak mereka selama 8 tahun ke depan. Dari studi tersebut, ditemukan bahwa anak-anak yang diasuh oleh tiger parents mengalami gejala depresi yang lebih tinggi dibanding anak-anak dari easygoing dan supportive parents. Hal ini ditandai dengan tingginya level hormon kortisol yang mereka miliki. Hormon kortisol sendiri merupakan hormon yang biasa dimiliki oleh individu yang mengalami depresi atau stres.
  3. Pencapaian akademis yang kurang baik, menurut Amy Chua, salah satu asumsi terbesar dari tiger parenting adalah anak yang tumbuh dalam pola asuh ini bisa mendapatkan pencapaian akademik yang lebih tinggi dibanding anak-anak dari pola asuh lain. Namun, beberapa studi berkata lain. Para peneliti mengatakan bahwa anak-anak dari tiger parents mendapatkan tuntutan yang jauh lebih berat untuk sukses di bidang akademis dan alienasi dari orang tua mereka. Tuntutan yang begitu berat ini justru membuat mereka stres, sulit fokus dalam melakukan aktivitas, dan banyak pula dari mereka yang malah mendapatkan GPA (Grade Point Average) yang lebih rendah dibanding teman-temannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa tiger parenting dapat menimbulkan dampak psikologis yang negatif pada anak. Tetapi, perlu diketahui juga bahwa tidak semua anak akan mengalami akibat negatif dari tiger parenting. Sebab*,* mereka memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan bereaksi terhadap suatu situasi. Pola asuh yang paling optimal adalah kondisi ketika seorang anak dapat termotivasi untuk sukses. Namun, jangan membuat mereka merasa bahwa pencapaian akademis adalah satu-satunya cara untuk “diterima” oleh orang tuanya.

Jangan lupa kunjungi Social Connect untuk membaca artikel-artikel menarik lainnya seputar kesehatan mental.

Referensi

Penulis : Kresentia Aretha Tjahjadi, B.A, M.M

Editor Tata Bahasa : Hania Latifa

Sumber Tulisan :

  1. American Psychological Association. (2013). “‘Tiger Parenting’ Doesn’t Create Child Prodigies, Finds New Research”. Diakses dari laman web American Psychological Association pada tanggal 23 September 2021.
  2. Chua, A. (2012). Battle hymn of the tiger mother. Bloomsbury Publishing PLC. Firmeza, JREE, Bermejo, SA, Juarez, AD, Caparles, JA, Villamin, RE & Contreras, EJT. The Effects of Tiger Parenting on the Academic Performance of Grade 7-10 Students.
  3. Kim, SY, Wang, Y, Orozco-Lapray, D, Shen, Y & Murtuza, M. Does “Tiger Parenting” Exist? Parenting Profiles of Chinese Americans and Adolescent Developmental Outcomes. Asian American Journal of Psychology. 2013 Mar 1; 4(1): 7-18.
  4. Nandam, LS, Brazel, M, Zhou, M & Jhaveri, DJ. Cortisol and Major Depressive Disorders-Translating Findings From Humans to Animal Models and Back. Front Psychiatry. 2019; 10:974.
  5. Plant, R. (2021). “What is Tiger Parenting?”. Diakses dari laman web Verywell Family pada tanggal 23 September 2021.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.